Hati Kami yang Sunyi
(source: pinterest)
Bunga-bunga yang kuncup semalam mekar pagi ini di hari minggu, wanginya menguar di pekarangan belakang, bergantian dengan aroma ayam betutu yang dimasak ibu pemilik kos-kosan baik hati. Bising bincang bergantian dengan suara denting gelas yang beradu aduk dengan gelas kaca, segera setelah tungku ayam betutu ditutup kembali, aroma kopi bergantian permisi melintas lewat indra penciumanku. Aku mengangkat baju-baju cucian kemarin yang telah kering dan memasukannya ke keranjang berukuran sedang yang kubawa dari kamar, kulihat anak kosan kamar sebelah sudah duduk di sisi pekarangan dengan ember penuh cuciannya, menunggu gantian menjemur. Satu demi satu penjepit kurapihkan untuk kemudian masuk ke dalam keranjang, aku berbalik menuju kamar. Seorang perempuan yang kutebak sebaya denganku melirik, aku tersenyum tipis. Tidak tahu betul siapa namanya, tapi pastilah ia anak baru di kosan ini. Melewati ruang depan, ibu kosan menegurku dan bilang bahwa masakannya akan siap sekitar jam satu siang nanti, kita makan bareng-bareng, ya! Ajaknya sumringah, aku mengiyakan sambil lalu menuju kamarku.
Ibu kos kami bernama Bu Hartati, anak-anak lebih sering memanggilnya ibu atau Bu Har. Beliau adalah kepala dirumah kos campur ini, sejak tinggal di kosan, meski bercampur dengan orang laki, Bu Har selalu memastikan tidak ada hal-hal tidak mengenakkan terjadi. Aku beruntung menemukan tempat bernaung di Jakarta yang ramah dan bersahabat, setidaknya begitu. Bu Har tinggal bersama kami di rumah ini, setiap hari Jumat, Sabtu, dan Minggu, bu Har yang memasak dan menyiapkan makanan untuk kami ‘anak-anaknya’, ia seringkali menyebut kami sebagai anak-anaknya semenjak anak-anak kandungnya hanya bisa pulang tiga atau bahkan lima tahun sekali. Ia selalu senang berbagi cerita ke siapapun di rumah meski tidak semua anggota rumah ini saling dekat, tetapi masakannya setiap akhir pekan selalu mampu membuat kami saling bertegur sapa dan bertukar cerita.
Kenyataan itu membuat setidaknya rasa sepi dalam dada kami berkurang meski sedikit. Tidak ada yang bisa pulang tahun ini, tidak juga yang berduit atau yang tidak punya sama sekali. Semuanya terkurung di Jakarta sambil berusaha tetap waras dan berpenghasilan. Ibuku rutin menghubungi setiap seminggu sekali, aku bersyukur bahwa kabar buruk itu belum sampai menyentuh desa, kalau perlu jangan pernah. Kesekian kali setelah bertanya kabar, ibu atau kakak perempuan pertamaku iseng bertanya soal apakah aku sudah menemukan lelaki untuk diperkenalkan, ingin sekali rasanya kujawab bahwa aku belum, atau sebenarnya aku mulai tidak percaya lelaki. Karena mereka hanya memiliki kemampuan yang itu-itu saja, manis di awal, sepah di perjalanan. Masih membekas rasanya mencintai seseorang yang malah dengan enteng mengatakan ia bosan kurang lebih tiga kali sehari, seperti minum obat.
“Doakan ya bu, mudah-mudahan dapet orang kaya, ganteng, pinter, baik” candaku balik. Di seberang sana Ibu dan Kakakku mengamini sambil sedikit terkekeh.
“Kok tumben baiknya ditaruh di akhir? Biasanya paling depan” goda kakakku, “Sekarang mintanya kaya dulu ya, kerasan kan tinggal di Jakarta? Hahaha”. Tawa kami pecah bersama walau terpisah jarak, aku tambahkan sebuah penjelasan kepada kakakku, “Baiknya kutaruh di belakang biar tidak keburu habis di depan, biar dia baik terus dan terus baik”. Pembicaraan itu berakhir dua tiga menit kemudian, disusul seruan bu Har yang mengajak anak-anak kost untuk berkumpul di meja makan. Makan siang bersama.
*
Piring-piring kosong tandas dan semua bahagia karena masakan buatan bu Har yang lezat. Hening diantara kami yang tinggal sisa ketukan sendok ke gelas atau tegukan es jeruk yang melewati kerongkongan orang-orang rantau yang haus. Tidak ada anak-anak main petasan. Tidak juga riuh rendah iring-iringan obor. Telinga kami dipenuhi suara dari surau yang dilantunkan imam tua. Tarawih pertama, Ramadan yang telah tiba, dan hati kami yang dipenuhi puisi Malam Takbiran karya Sitor Situmorang.
Aku izin kembali ke kamar lebih dulu. Menelepon ibu.


Komentar
Posting Komentar