#30HariBercerita 3; Sonya Pulang ke Rumah
![]() |
| (source: instagram.com/msondubu) |
"Nung, aku tadi ke kedai mie ayam," sambil memainkan anak-anak rambutnya, Sonya mulai bercerita. "Bapak tukang mie ayamnya ada masalah opo yo sama aku? Mosok nda terlalu ramai, tapi aku mau beli dicuekkin"
Nung menoleh, ia bilang, "Memangnya kamu masih merasa lapar?"
"Nda, sih. Cuman belum makan mie ayam kesukaan seminggu ini"
Nung menepuk jidadnya, dan teringat seminggu lalu Sonya sempat bilang kalau ia ingin sekali makan mie ayam langganan karena si bapak mie ayam sudah libur hampir dua minggu, dan Nung baru pulang dari pendakiannya empat hari yang lalu bersama teman barunya, Sonya. Mereka bertemu di lereng gunung pendakian, malas pulang ke rumahnya, jadi ia bersedia ikut dengan Sonya. Terhitung sejak kedatangannya, sudah hampir empat hari ini mereka hanya malas-malasan di kamar.
Nung kembali bertanya ke Sonya, "memangnya kamu masih mau makan mie ayam?"
Sonya beranjak dari tidurnya, membuka pintu sedikit dan berbisik, "Bapak juga tiba-tiba diam lho, Nung. Barangkali beliau juga mau mie ayam?"
"Bukannya terakhir kamu cerita kamu memang bertengkar dengan bapakmu?"
"Iya," Sonya mengangguk lemah. "Tapi kalau pun nda mau ngobrol sama aku, wajah bapak selalu garang, seminggu ini bapak nangis melulu, seperti waktu kehilangan ibu"
Nung ikut beranjak, menggapai tangan Sonya yang dingin dan terlalu halus, dan bilang, "Sonya--"
"Biasanya bapak yang selalu minta maaf duluan Nung kalau kami selisih paham," Sonya memotong suara Nung, "Mungkin hari ini harus aku duluan yang minta maaf"
Nung tidak jadi meneruskan perkataannya, ia mengelus-elus pundak Sonya, di pipinya, satu dua air mata jatuh tanpa bekas.
*
Sekarang, sudah genap enam bulan lelaki paruh baya itu selalu mampir setiap malam untuk makan mie ayam sambil bercengkrama dengan si bapak penjual. Lelaki paruh baya itu akan susah payah mengenang hal-hal menyenangkan untuk diceritakan walaupun pada beberapa malam mereka seringkali menangis bersama. Kehilangan adalah kisah yang panjang untuk keduanya, untuk kesekian kali sambil menenangkan teman bicaranya, si bapak penjual mie ayam selalu bilang, "Sudah lah, Cak. Anakmu juga sedih di sana kalau setiap hari kamu bersedih terus"
Dan lelaki paruh baya itu akan selalu balas berkata, "Aku bersedih bukan untuk membuatnya sedih juga, Cak. Aku bersedih agar ia tahu aku menyayanginya"
"Dia tahu, Cak. Dia anakmu dan dia tahu"
#30hbc03
#30haribercerita
@30haribercerita



Komentar
Posting Komentar