ES.KA.PIS.ME
/ES.KA.PIS.ME/
Buku-buku
berserakan sekarang, bersamaan dengan daya ingat. Lembaran demi lembaran
kertas abadi dalam tinta yang mengikat
putih kertas pada lekatnya, tetapi tidak pada apa-apa yang harusnya lekat di
dalam kepala. Sekarang semester demi semester sudah dilewati, melesat begitu
saja dengan kehampaan yang tiba-tiba. Kutemukan diriku berserakan dalam bingung
dan lupa; harus ke mana selanjutnya setelah sebelumnya bejubel rencana pernah
begitu sering memenuhi isi kepala?
Dahiku
berdenyut banyak dan aku terus menenggak kopiku, memulai lagi kebiasaan buruk
itu, terjaga sampai dini hari dan kelewatan jauh dari stasiun seharusnya aku
turun karena terlalu asik menyambung lelap di pengap kereta menuju Bogor,
Depok, atau Nambo. Kupandangi lagi dengan jeli rak buku sumpek dan berdebu itu
dan mengingat-ingat dari mana saja dan atas dasar apa aku membawa mereka ke
rumah, mengangkat mereka menjadi anak-anak yang kadang alpa dan silap untuk
kujenguk. Di rak itu tetap hanya penuh buku-buku, atau mataku lelah, jenuh
mencari. Tidak ada mereka jurnal-jurnal yang pernah susah payah kususun untuk
bekalku malam ini.
Ide-ide
dan semangatku seketika menjelma eskapisme di siang bolong. Kutanya kepada jauh
di dalam diriku, di bawa ke mana saja aku oleh aku yang lain, menuju
kejadian-kejadian yang jauh dari makna nelangsa, toga-toga yang belum pernah
singgah di kepalaku dan potret dengan gaun tersapu angin sore di pelataran
kampus dengan aku dan segala hal yang akhirnya menambahkan akronim
di belakang nama, dan predikat sebagai yang terbaik. Eskapisme melupakan
apa-apa yang harus kubangun sebelum segala manis yang ia bangun dalam dunia
khayal mendahuluiku.
Sekarang
aku merindukan seseorang. Lama sekali semenjak kuputuskan untuk tidak lagi.
Memasuki kepala dua, dalam hidupku terlalu banyak perasaan yang spontan, terlalu tiba-tiba untuk dicegah kedatangannya. Kenyataan tidak mampu menuntaskan segala ingin, barangkali rindu ini
akan kularikan lagi. Menuju eskapisme-eskapisme yang merampas tidur dan menjadi
bunga dalam lelapku. Membuatku banyak menduga dan berfirasat di pagi ketika aku
membuka mata.



Komentar
Posting Komentar