Cerita Panjang Perjalanan; Jogjakarta!



(Candi Ratu Boko, dok pribadi)

 Setiap perjalanan selalu memiliki pintu-pintu untuk dijelajah, sayang dirasa kalau hanya menikmatinya sebagai simbolisasi atau pengakuan semata. Berbekal tabungan berbulan-bulan dan rencana yang tidak sedikit, tanggal keberangkatan hari itu menjadi hari yang paling ditunggu-tunggu. Buatku yang cuma karyawan biasa, cuti untuk keperluan liburan termasuk hal yang mewah, kuambil untuk hari Jumat dan Senin, sebab Sabtu dan Minggu sudah terhitung hari libur. Hemat tetap jadi jalan ninja, tetapi hamdalah, mendapat diskon di masa-masa sekarang bukan hal yang sulit, cari-mencari, banding membanding, sampai akhirnya kekhawatiranku akan lelap di mana jika malam, surut. Saatnya sabar-sabar menghitung minggu untuk si jarang piknik dan si tidak pernah merantau, tetapi namanya juga menunggu; tidak ditunggu rasanya cepat, ketika menunggu, mengapa lah lama sekali? 

Jumat, 26 Juli 2019, pukul 10.00 WIB, barangkali masih bisa kita sebut sebagai matahari pagi.
Stasiun Pasar Senen ramai seperti biasa, sebelumnya sudah diwanti-wanti oleh mama agar tas berisi barang berharga selalu diposisi depan. Hari itu punggungku lebih kuat dari biasanya, lebih merasa percaya diri dari biasanya. Di Stasiun Pasar Senen, mencari-cari seorang kawan seperjalanan yang katanya sudah kepalang lapar, belum sarapan. Namanya Amel, ia ada di salah satu outlet makanan siap saji dengan sepiring nasi goreng dan segelas es teh, melambai. Mulutnya penuh dengan sisa-sisa suapan terakhir.

Kami berangkat tepat pada pukul 11.20 WIB, menuju siang. Hari itu matahari Jakarta lumayan bersahabat, tidak terlalu terik. Hari itu adalah perjalanan yang panjang, namun perjalanan pagi sampai sore adalah perjalanan yang menyenangkan untuk aku yang benar-benar masih kali pertama naik kereta. Hamparan hijau mulai marak dan meluas ketika memasuki Karawang, begitu seterusnya sampai kereta kami akhirnya tiba di Stasiun Lempuyangan, Jogjakarta. Ada perlu drama-drama dulu sebelum akhirnya sampai, kami dipertemukan seorang lelaki yang minta ampun sok akrab dan harus kembali diajarkan pentingnya tata krama, temanku punya sekarung kesabaran untuk menghadapinya, sementara aku sudah melipat-lipat muka dan pura-pura tidak bersuara semenjak kelakuannya mulai tidak bisa di tolerir. Beberapa kali juga sempat kereta terhenti menunggu pergantian jalur, kami sampai pada pukul hampir sebelas malam, telat satu jam lebih. Namun hamdalah lagi-lagi, hotel kami tidak terlalu jauh dari Stasiun Lempuyangan, dengan sisa-sisa tenaga kami melanjutkan dengan jalan kaki, menuju hotel, bebersih, lalu tidak bisa tidur. Kepala kami penuh dengan macam-macam rencana untuk hari esok.

Sabtu, 27 Juli 2019, tiga destinasi.
Kami cukup molor berangkatnya, tetapi tentu saja bangun tepat waktu. Kebetulan sekali jadwal datang tamuku, kebetulan lagi karena Amel, temanku, juga punya jadwal kedatangan tamu bulanan yang sama. Pagi itu kami bangun pukul enam lewat tigapuluh menit, sarapan diantar ke kamar, rapih-rapih, dan.... motor sewaan kami tidak kunjung datang. Ada yang perlu di persiapkan, ujar si mas-mas sewa motor. Ujung-ujungnya kami ganti motor karena jenis motor yang kami pesan jauh-jauh hari ternyata sedang tidak ada. Hari itu lumayan, kami dapat motor yang kukuh dan besar untuk ukuran kami perempuan yang tidak terlalu tinggi. Vario 125.

Kami berangkat tepat pukul sembilan pagi, destinasi pertama; Taman Sari! Ohya, sebelumnya kami merasa sedikit kesulitan untuk menemukan ATM BCA, menemukan ATM BCA di Jogja tidak semudah menemukannya di Jakarta. Maka itu harus berjalan lumayan jauh dari tempat kami menginap menuju Circle K untuk mengambil tunai, kemudian kami melanjutkan perjalanan ke destinasi pertama, Taman Sari.

Taman Sari


*Tips; selalu sediakan tunai saat di Jogja, terlebih jika nantinya ingin berbelanja di sekitaran Malioboro. Jangan lupa juga untuk isi saldo OVO dan Gopay jika barangkali teman-teman akan lebih banyak berpergian menggunakan dua moda transportasi online berikut.

Perjalanan dari hotel ke Taman Sari tidak terlalu jauh, jarak tempuhnya hanya tiga puluh menit dengan kondisi lalu lintas biasa. Sabtu pagi itu, udara Jogja sejuk dan lumayan dingin. Menikmati lalu lintasnya yang sama sekali berbeda dengan Jakarta adalah kesenangan tersendiri untuk saya dan kawan saya Amel. 

Tumbas Aice neng Taman Sari

Tumbas meneh, pentol jeletot
Iki opo hayoo? Es jamu kunyit karo beras kencooor


Tiba cukup pagi di Taman Sari, lokasi ini sudah lumayan ramai oleh beberapa turis, kebanyakan mereka datang berkelompok. Taman Sari memiliki kesan tersendiri, sekilas nampak itu-itu saja, namun ternyata bangunan-bangunan yang sederhana dan klasik itu  memiliki beberapa komplek. Kami tidak sempat menjamah seluruh kompleknya, namun pada bangunan yang zaman dahulu ditinggali oleh para selir raja ini, kami cukup puas mengelilinginya. Satu yang unik adalah, komplek perumahan di Taman Sari menyatu dengan beberapa rumah warga, kami berjalan ke belakang, dan menemukan rumah-rumah warga di sela-sela komplek. Untuk masuk ke Taman Sari, wisatawan hanya perlu membayar kocek sebesar sepuluh ribu rupiah (lokal+foto), harga yang ringan untuk pengalaman yang benar-benar bagus.

Ameng, ayu neng Taman Sari
Lorong-lorong di Taman Sari, penghubung satu komplek dengan komplek yang lain

Kami melanjutkan perjalanan, kali ini menuju destinasi kedua dan ketiga, dua destinasi utama untuk hari ini. Prambanan – Ratu Boko. Kami benar-benar hanya bermodal google maps untuk petunjuk arah, siang itu Taman Sari – Prambanan kami tempuh dalam waktu 45 menit kurang lebih dengan kondisi lalu lintas lancar. Sesampainya di Prambanan, kami langsung pada rencana pertama, mengambil paket perjalanan Ratu Boko-Prambanan menggunakan shutle bus yang tersedia. Sebenarnya ada beberapa pilihan perjalanan, semuanya sama-sama menuju dua candi yang berbeda. Kami memilih perjalanan Prambanan-Ratu Boko dengan mengunjungi Ratu Boko terlebih dahulu. 
Tiket paket perjalanan Prambanan - Ratu Boko
Sebenarnya sayang sekali, karena dalam plan kami, kami ingin menikmati sunset di Ratu Boko karena pasti lebih kerasan, candi itu terletak di atas bukit, tapi tak apalah, yang terpenting adalah experience yang kami temukan di sana, juga, ternyata menunggu mentari terbenam di candi Prambanan tidak kalah indahnya. 

tangga menuju Ratu Boko
 
Puas menjelajah Ratu Boko dan Prambanan, kami kembali dan sampai di hotel sekitar pukul tujuh malam itu, bebersih, mandi, istirahat, dan kembali menelusuri malam di Jogja.


Senja di Prambanan


Minggu, 28 Juli 2019
Masih berbekal ‘ke-sok-tahuan’, kami berangkat ke Pantai Watu Kodok, salah satu pantai selatan yang terletak di Gunung Kidul. Perjalanan dari hotel menuju pantai Watu Kodok lumayan lama, dua jam. Di hari ini kami benar-benar melakukan kesalahan fatal; kami tidak tahu apa yang ada di depan, bagaimana rutenya. Karena sepanjang perjalanan yang terasa jauuuuuuuh sekali, kami ternyata harus berkendara naik turun bukit (dengan jalan yang sudah bagus, tentu saja, tapi tetap, itu bukit. Bukit. BUKIT), berkelok, melewati desa-desa, kemudian sepi, angin-angin yang berhembus terlalu kecang dan kami tidak berkendara dengan mengenakan jaket, adalah buah dari ke-sotoy-an kami yang mendarah daging dengan anggapan bahwa ‘Jogja itu panas tauk!’. Jangan ditiru, ya! HUHU.
Dan perjalanan panjang penuh ke-sotoy-an dan kegaduhan di masing-masing diri itu menemukan bayarannya tersendiri. Pantai Watu Kodok, pantai di Gunung Kidul yang masih berpasir putih dengan ombak besar yang bergulung-gulung. Perjalanan panjang itu terobati lebih dari cukup.

 
Pantai Watu Kodok


Seperti namaku, ada ketenangan menelusup setiap ombak-ombak besar itu berdebur. Tidak ada suara ramai manusia, semua ditutup obrolan alam, tentu saja karena sedari perjalanan, angin telah berhembus terlalu kencang bagiku si orang kota. Hamparan ini jelas terlalu indah, namun alih-alih mengabadikannya sebagai simbolisasi, menatapnya tanpa berpikir apa-apa adalah sebaik-baiknya menikmati laut. Dua batas dunia, karang dan ombak, pasir-pasir dan ombak, rumput laut yang licin dan subur, atau warga sekitar yang saat itu tengah melarungkan macam-macam untuk mereka yang dipercaya ada di bawah sana.


Di perjalanan pergi yang melelahkan itu, aku mengenal diriku sendiri dan sejauh mana aku mampu berani. Si Penakut yang tidak bisa jauh dari lengan ibunya. Juga, aku mengenal siapa sahabatku hari itu, ia perempuan ragu-ragu yang tidak juga berhenti sebelum benar-benar jatuh. 




Kami pulang dengan perasaan tenang; tenang karena di kepala dan hati kami ada kenangan tentang biru yang tak terbatas, tenang karena masing-masing kami tahu sejauh mana kami mengenal diri sendiri pada sebuah perjalanan yang sama sekali asing untuk diri sendiri.

Sempat kubilang ide mendadak ini kepada sahabatku selagi kami menikmati debur ombak, “Kalau nanti aku punya anak lelaki, pasti ia akan kunamai Karang!”. Agar ia setangguh dan setajam yang kala itu tanganku sentuh dan kakiku pijak.



Kami tidak mengejar senja di sana, perjalan pulang kami melewati jalan panjang yang kami belum terlalu kenali. Kembali ke hotel pada pukul lima sore, kami benar-benar tidak habis pikir dengan perjalanan barusan; KOK BISAAAAA!!!!

Malam penghabisan, saatnya ke Malioboroooo~
Sebenarnya kami sudah ke Malioboro sejak hari pertama saat pulang dari Prambanan, tapi karena kepalang baru sekali, jadinya sedikit canggung dan banyak nggak tahunya. Yang pertama adalah, Malioboro itu raaaamaaaai sekali! Jadi harus mawas diri juga saking ramainya. Hari pertama kami berkunjung, kami makan ice cream di Artemy Italian Gelato, kemudian menyesal menye-menye karena ekspetasi kami akan kepopuleran Angkringan Kopi Joss harus jatuh-sejatuh-jatuhnya karena memang yaaa... tidak seenak dan senikmat itu. Sepertinya besok-besok, kita harus menurunkan ekspetasi kepada apapun meskipun katanya kebanyakan asik, asik, dan asik!

 
Kopi Joss yang sungguh Plat Nomor Jakarta alias B aja


Ice Cream Artemy Gelato
Malam kedua kami mengunjungi Malio, kami tidak lagi ke pusatnya. Kami turun di sisi pasar Beringharjo, berjalan-jalan. Malioboro pusat ada jauh di depan. Nah, ternyata sengaja atau tidak, di sini letak asiknya; perbedaan pusat Malioboro dan Malioboro di sisi pasar Beringharjo. Pertama, sisi Beringharjo sama mengasyikannya, namun harga-harga segala pernik dan makanan jauh lebih murah dibanding kalau harus mengunjungi pusat Malioboronya, serius! 
Mangan pecel neng Beringharjo :)


Malam itu saya dan kawan membeli daster rumahan, 100rb dapat tiga! Padahal sebelumnya kami tanya-tanya penjual di Malio, dengan daster yang sama, tapi 65rb cuma dapat 1, aduh! Pokoknya, kalau ke sekitaran Malioboro, jangan malas-malas untuk jalan jauh, ya. Oiya, akhirnya di malam kedua ini kesampaian naik becak motor dengan kocek 25rb sampai hotel. Kemarin di pusat Malioboro, kami tanya salah satu becak motor, dan si bapaknya langsung nembak 50rb, hahaha, sungguh beda sekali.

Malam itu ditutup dengan wedang ronde yang keterlaluan nagihnya, itu kali pertama saya cicip wedang ronde sepas, dan senikmat itu. Sampai saat ketika saya menulis ini, saya benar-benar kangen sekali sama wedang ronde.
Tumbas wedang ronde, manteeeeep!

Kami pulang keesokan harinya, hari Senin. Chek out dari hotel pukul dua belas siang dan langsung menuju ke Stasiun Lempuyangan, makan siang. Kereka kami tiba pukul 15.26 WIB, kami sampai kembali ke tanah di mana dulang-dulang berlian harus kembali digali untuk destinasi dan petualangan berikutnya. Perjalanan ini juga saya sempat abadikan dalam video, barangkali ada yang mau tengok-tengok, iniiiii;



Oiya, sebelum penutup, ini ada list untuk teman-teman, barangkali mau juga buat plan perjalanan ke Jogjakarta, kuncinya adalah sering dan rajin membandingkan harga dan cari diskonan. Supaya apa? Ya supaya lebih hemat dong ah, apalagi kalau backpakeran, jadi, ini listnya, hitungan trip 2 orang;

·         KAI PP St. Senen – Lempuyangan    @Rp. 74.000 x 2         =          Rp. 148.000
(Booking via Traveloka)
·         Hotel 4 Hari 3 Malam                         Rp. 500.000/2 org       =          Rp. 250.000
(Booking via Agoda, diskon. Dapat breakfast pulak!)
·         Sewa Motor 2 Hari                             @Rp.160.000/2 org    =          Rp. 80.000
(karena perharinya Rp.80.000)
·         Bensin                                                 Rp.40.000/2 org          =          Rp. 20.000
·         Taman Sari                                                                                          Rp. 10.000
·         Prambanan-Ratu Boko                                                                        Rp. 75.000
·         Masuk kawasan pantai (sebelum pantai)                                             Rp. 10.000
·         Pantai Watu Kodok (termasuk parkir)                                                Rp. 6000
·         Jajan-jajan, makan, beli ini itu di Malio                                              Rp. 300.000

TOTAL                                   Rp. 899.000

Sampai bertemu di perjalanan selanjutnya, mari kita nabung lagi :)



Salam jalan-jalan hemat,


Lyta

Komentar

Postingan Populer