Perempuan itu Adalah Bumi
Di sebuah bar antah berantah yang masih ramai sampai esok subuh, aku menggoda perempuan yang tengah berjalan sendirian meninggalkan hingar bingar. Gaunnya terlalu pendek dan terbuka hingga kupikir ia akan kedinginan, aku tidak memperkenalkan diriku, hanya kemudian kusampirkan sebuah jaket lusuh, tapi semoga cukup hangat untuknya. Perempuan itu tidak menolak, ia tersenyum, aku tersipu, setengah mabuk.
"Terima kasih" katanya.
Aku mengangguk. Selarut itu menemani perempuan asing berjalan, tidak berniat pulang, hanya ingin mengikutinya yang juga tidak keberatan ke mana pun ia melangkah.
"Kau akan pulang ke mana?" tanyaku.
"Pagi" jawabnya singkat.
Kami berjalan lagi tanpa suara, hanya langkah-langkah kaki. Sesekali kucuri pandang diantara temaram cahaya, ia perempuan yang sejuk dan gersang, buruk rupa dan menawan sekaligus, di matanya yang hampir terpejam mengalir air mata sesekali, ia tidak terlihat sedih, tidak juga bahagia, wajahnya sendu, dan kehidupan tidak pernah berhenti di matanya.
"Ke mana kau akan pulang?" ia tiba-tiba bertanya.
"Ke mana?" aku mengendikkan bahu, "Tidak ke mana-mana"
"Baiklah, berhenti" ucapnya seraya menghentikan langkah, "Kau tidak bisa terus mengikuti"
Maka aku berhenti, begitu pula ia. Perempuan itu menatapku sebentar, kemudian ia berbalik meninggalkan, benar-benar akan pulang menuju pagi. Tetapi buatku ini belum terlalu larut dan jauh untuk menanyakan pertanyaan yang luput dari pertemuan yang singkat, "Namaku Malam, kau akan berkunjung lagi?"
Perempuan itu berbalik, tersenyum sedikit, "Aku bumi, aku mengunjungimu setiap hari, setiap sisi."
Aku balas tersenyum, melambai. Perempuan itu Bumi, ia selalu berkunjung untuk menceritakan carut marut di tubuhnya.



Komentar
Posting Komentar