#JurnalKelima; Berbincang dengan Seorang Karib
aku mengingat banyak hal-hal baik saat ada hal buruk menimpaku, kata seseorang, itu akan membuatmu lebih merasa lebih baik karena setidaknya kau pernah merasakan kebaikan sebelum keburukan, kau pernah merasakan keleluasaan sebelum kesempitan, pernah merasakan sehat sebelum sakit, hal-hal baik yang pernah menjadi bagian hidupmu harus bisa membuatmu lebih bersyukur, begitu katanya.
dan kemudian suatu hari dikirimkan kepadaku seseorang baik untuk mengisi hari. banyak orang datang dan pergi, yang kali ini tinggal lebih lama, saking lamanya mungkin aku kehilangan sikap waspada, terlalu takut menjadi berkeping-keping jika suatu hari ia tidak lagi menjadi bagian dari sisa waktuku yang tidak pernah kutahu.
"kau pernah kehilangan?" tanyaku kepada seorang karib, di waktu-waktu yang jarang aku menemuinya hanya untuk saling bertukar kabar dan bertanya-tanya tentang bagaimana kehidupan kami berjalan.
ia tersenyum, menoleh, "kenapa?"
"nanya aja" balasku.
ia menangguk, menjawab, tapi matanya tidak menatapku, "pernah. kalau kamu tanya bagaimana? rasanya tidak baik-baik saja"
tetapi kutemui ia baik-baik saja, selalu, maka satu lagi tanya kulayangkan padanya, "seberapa lama kamu merasa nggak baik-baik saja?"
"sampai hari ini, setiap mengingat hari itu, saya nggak baik-baik aja." ia menghela nafas panjang, "tapi semuanya sudah di belakang, perasaannya nggak akan sedalam dulu, ketika saya teringat, saya akan ingat hal-hal baik yang pernah saya lalui bersama yang terpaksa hilang atau menghilang pelan-pelan. jangan ingat sakitnya, ingat baiknya."
ah, aku diam. tidak minat membantah. jawaban itu terdengar muna, naif, klasik. sebab kehilangan bagiku tetap kehilangan, tidak ada yang baik-baik saja sebakda kehilangan. bahkan hal-hal baik yang bisa diingat, hanya akan membawa perasaan tidak mampu untuk kembali ke masa-masa saling memiliki.
sedang sibuk ngedumel dalam hati, tiba-tiba ia menyenggol lenganku, tertawa kecil, "tenang aja, semua kepala punya cara sendiri, bahkan satu kepala bisa punya tiga cara untuk ngadepin itu, kehilangan."
ah, perempuan, perempuan selalu punya cara sendiri untuk mengerti. bahkan hal-hal buruk tentangnya yang tengah dipikir oleh sahabatnya sendiri. segera kupeluk tubuh karibku yang gempal dan hangat, ia perempuan paling baik-baik saja di muka bumi, kupeluk ia tanpa kata-kata. ia meredakanku tanpa suara. kita lelah, kita hampir menyerah, tetapi untuk kehilangan titipan dalam hidup yang akhirnya kita kenal sebagai sebuah rasa, peluk, atau bahkan tempat pulang kesekian yang paling nyaman, kita berpikir dua kali. tidak, kita berpikir berkali-kali; karena membangun banyak hal berarti, semua hati pernah punya waktu beratus-ratus hari.
... seharusnya tidak akan lepas dan pergi begitu saja.
*Jakarta, 05 Januari 2019, 18.44
dan kemudian suatu hari dikirimkan kepadaku seseorang baik untuk mengisi hari. banyak orang datang dan pergi, yang kali ini tinggal lebih lama, saking lamanya mungkin aku kehilangan sikap waspada, terlalu takut menjadi berkeping-keping jika suatu hari ia tidak lagi menjadi bagian dari sisa waktuku yang tidak pernah kutahu.
"kau pernah kehilangan?" tanyaku kepada seorang karib, di waktu-waktu yang jarang aku menemuinya hanya untuk saling bertukar kabar dan bertanya-tanya tentang bagaimana kehidupan kami berjalan.
ia tersenyum, menoleh, "kenapa?"
"nanya aja" balasku.
ia menangguk, menjawab, tapi matanya tidak menatapku, "pernah. kalau kamu tanya bagaimana? rasanya tidak baik-baik saja"
tetapi kutemui ia baik-baik saja, selalu, maka satu lagi tanya kulayangkan padanya, "seberapa lama kamu merasa nggak baik-baik saja?"
"sampai hari ini, setiap mengingat hari itu, saya nggak baik-baik aja." ia menghela nafas panjang, "tapi semuanya sudah di belakang, perasaannya nggak akan sedalam dulu, ketika saya teringat, saya akan ingat hal-hal baik yang pernah saya lalui bersama yang terpaksa hilang atau menghilang pelan-pelan. jangan ingat sakitnya, ingat baiknya."
ah, aku diam. tidak minat membantah. jawaban itu terdengar muna, naif, klasik. sebab kehilangan bagiku tetap kehilangan, tidak ada yang baik-baik saja sebakda kehilangan. bahkan hal-hal baik yang bisa diingat, hanya akan membawa perasaan tidak mampu untuk kembali ke masa-masa saling memiliki.
sedang sibuk ngedumel dalam hati, tiba-tiba ia menyenggol lenganku, tertawa kecil, "tenang aja, semua kepala punya cara sendiri, bahkan satu kepala bisa punya tiga cara untuk ngadepin itu, kehilangan."
ah, perempuan, perempuan selalu punya cara sendiri untuk mengerti. bahkan hal-hal buruk tentangnya yang tengah dipikir oleh sahabatnya sendiri. segera kupeluk tubuh karibku yang gempal dan hangat, ia perempuan paling baik-baik saja di muka bumi, kupeluk ia tanpa kata-kata. ia meredakanku tanpa suara. kita lelah, kita hampir menyerah, tetapi untuk kehilangan titipan dalam hidup yang akhirnya kita kenal sebagai sebuah rasa, peluk, atau bahkan tempat pulang kesekian yang paling nyaman, kita berpikir dua kali. tidak, kita berpikir berkali-kali; karena membangun banyak hal berarti, semua hati pernah punya waktu beratus-ratus hari.
... seharusnya tidak akan lepas dan pergi begitu saja.
*Jakarta, 05 Januari 2019, 18.44



Komentar
Posting Komentar