Rumpang

Lagi-lagi aku berharap banyak. Keberharapan atas sebuah peluang akhirnya menjadi penyakit untuk aku yang tidak pernah mau (lagi) untuk memaksamu, tapi selalu ingin kepastian itu hadir di depan mataku dan meyakinkan betul agar aku tahu bahwa tidak sia-sia aku mencintaimu dan jatuh hati.


Pembicaraan malam ini bersama karib-karibmu membuatmu terpojok, kan? Kau hanya menimpali dengan candaan tanpa mau tegas, kau tertawa dan menatapku dan mengira aku girang. Tidak. Aku tidak sedang girang. Aku sedang menunggu ketegasanmu, sama seperti karib-karibmu menunggu. Aku juga. Malam ini aku bersyukur dan berterima kasih karena bertemu mereka, lewat karib-karibmu tersampaikan apa yang tidak sanggup untuk kusampaikan kepadamu. Aku masih sabar, membicarakan itu membuat suasana hatimu berantakan, dan aku tidak menginginkan itu. Aku banyak mengalah dengan egoku sendiri kalau kamu mau tahu. Menyakitkan memang dalam perjalanan sejauh ini kau dan aku adalah sebuah kerumpangan yang jelas, tetapi aku masih bisa menahan rasa sakitnya. Kadang-kadang aku lupa, kalau sedang ingat dan ingin bertanya aku cuma sedih.

Jadi malam ini kau skak mat, dan kau tahu? Hatiku berdegup, aku berharap banyak bahwa doa-doaku akan sampai, walaupun itu sebatas akan kau kenalkan aku kepada bapak dan ibumu, apakah aku terlalu berlebihan dan berharap? Apakah aku tidak tahu diri? Tidak juga,  aku tidak meminta banyak, aku hanya ingin kamu melakukan apa yang aku lakukan untukmu; sebuah keyakinan. Dan semenjak tawa, tangis, luka, dan kemudian tangis lagi, kusimpulkan belum membenak yakin itu di hatimu. Malam ini aku tahu bahwa bahkan namaku belum pernah sampai di telinga ibumu, apakah aku semeragukan itu buatmu? Apakah kau memang masih seragu yang kau sampaikan waktu itu? Mengapa kau masih bersamaku kalau kau ragu? Mengapa aku tidak juga menyerah meski hingga saat menulis ini aku terluka?


Kita bertengkar lagi. Dari semua pertengkaran yang pernah kita lewati, ada dua pertengkaran yang tidak bisa kubendung dan aku malu. Pertengkaran pertama, pertengkaran Sabtu itu, saat teman-temanmu untuk pertama kali mengetahui tentang kita, aku akui aku masih belum terbiasa saat itu, aku menangis sepanjang perjalanan, sepanjang perjalanan kau tidak menegurku, aku pulang dan air mataku tumpah, sialnya ibuku di sana, sesenggukan aku memeluknya, ibuku bertanya ada apa? Aku tidak sedang tidak ingin ditanya, dan ibuku tahu, maka beliau memelukku erat, walaupun sebenarnya aku malu. Pertengkaran kedua adalah malam ini, kau benar-benar menurunkanku di depan gang, kau bahkan tidak menoleh lagi ketika kupanggil tadi, aku menangis sebentar di gang, brengseknya air mataku yang tidak tahu kapan harus deras tidak bisa berhenti, aku cepat-cepat masuk rumah dan memeluk ibuku. Lagi, aku tidak ingin ia bertanya, aku cuma butuh pelukan erat sampai aku lapar sekali.

Di kepalaku terngiang-ngiang satu kata, "Kepastian". Tuhan belum menjawab doa-doaku yang itu malam ini. Meskipun cecar karib-karibmu selama satu jam lebih dan harap-harapku selama itu, kau tidak luluh juga. Tetapi bolehkah aku bertanya satu hal, kepadamu, benarkah kau akan rela dan baik-baik saja jika suatu hari aku meninggalkanmu dengan suatu alasan? apakah kau akan benar-benar baik-baik saja karena kau selalu bilang bahwa hidup ini harus realistis? apakah kau sungguh-sungguh akan melepaskanku dengan mudah?


Jika iya, apakah benar kamu masih menyimpan perasaan yang kamu sampaikan di Sabtu malam pukul 22.00 malam di 25 Desember tahun kemarin?

Komentar

Postingan Populer