Satu Hari ; Arini dan Arinta
Kabar Buruk.
Arini, masuk ke pintu-pintu yang harus punya iman yang cukup ketika ia membukanya. Ia perempuan setengah mabuk yang lepas dari dirinya sendiri, memasuki pintu-pintu rumah orang asing yang terlalu ia percaya. Layar-layar film terbentang di setiap pintu, menampilkan adegan yang berbeda. Arini duduk di sana sambil sesekali ingin keluar untuk kemudian masuk lagi, keluar masuk lagi, keluar masuk lagi sampai ia rasa ia harus berhenti. Ia tidak menemukan jalan pulang. Imannya habis dimakan dosa-dosanya, yang tumbuh subur di rahimnya kini hanya dengki dan dengki, layar-layar masih memutar kehidupan yang tidak ia suka. Jalan cerita yang tidak bisa diubahnya, makna-makna yang tidak bisa ia hapus, perasaan yang bukan miliknya dan tempat berdiam yang belum jadi rumah seutuhnya. Arini menangis dan jatuh tertidur, tidak ada yang menyelimutinya, tidak ada yang mengelus kepalanya, tidak ada yang menghubunginya, tidak ada selamat malam, yang ada cuma kenyataan bahwa ketidakpastian masih berjarak milyaran anak panah dari tempat ia mengira kebahagiaan bermuara di dada.
***
Kabar Baik.
Arinta pulang dan melewati jalan yang sama, perjalanan pulangnya panjang, kepalanya dipenuhi lirik lagu Coldplay – Paradise, atau sesekali , adalah Rolling in The Deep, atau, Rumor Has It. Enam, atau lima bulan terakhir hidupnya berjalan sama, lukisan-lukisannya, mural-muralnya, abstrak-abstraknya, adalah kehidupan yang mengalir sebagaimana aliran darahnya. Perempuan itu tahu bagaimana hidupnya menjadi seorang seniman jalanan tidak akan seberapa, tetapi sebab orang-orang yang dicinta tidak pernah mengerti, kadang-kadang mereka yang bahkan tidak ia kenali mampu memahami isi kepalanya dan guratan kuasnya. Sejak tiga bulan berlalu, selalu ada lelaki bermata biru yang duduk di seberang, menunggunya pulang. Ia akan melihat-lihat hasil karyanya sambil memuji, mereka akan berbincang sebentar dan lelaki itu akan pulang terlebih dahulu. Setiap akhir bulan, lelaki itu tidak pernah absen untuk memborong karya-karya Arinta yang sepi peminat—sebuah keajaiban yang tetap menyalakan obor semangat.
Arinta tidak pernah mengetahui siapa lelaki itu seperti lelaki itu tidak pernah tahu siapa Arinta. Yang ia tahu, sore ini ketika dalam perjalanan pulang, ia melihat sebuah pasar malam di dekat rumahnya, kerlip lampu sendu, dan lukisan-lukisan yang lelaki bermata biru itu menjadi ornament pelengkap di sepanjang jalan.
--untuk sebuah kebaikan yang terus mengalir.
Orang-orang berlalu lalang, kagum. Di seberang, ia tersenyum. Arinta membalasnya dengan senyuman tipis, berbalik arah, hal-hal itu tidak akan pernah bisa membuat rasa cintanya berpindah. Tetapi keberadaannya yang diakui dengan susah payah menjadi alasan untuknya menoleh sekali lagi sambil bergumam, “Arinta,” berharap karib baik hati itu dapat menangkap maksudnya memberi tahu.
Arini, masuk ke pintu-pintu yang harus punya iman yang cukup ketika ia membukanya. Ia perempuan setengah mabuk yang lepas dari dirinya sendiri, memasuki pintu-pintu rumah orang asing yang terlalu ia percaya. Layar-layar film terbentang di setiap pintu, menampilkan adegan yang berbeda. Arini duduk di sana sambil sesekali ingin keluar untuk kemudian masuk lagi, keluar masuk lagi, keluar masuk lagi sampai ia rasa ia harus berhenti. Ia tidak menemukan jalan pulang. Imannya habis dimakan dosa-dosanya, yang tumbuh subur di rahimnya kini hanya dengki dan dengki, layar-layar masih memutar kehidupan yang tidak ia suka. Jalan cerita yang tidak bisa diubahnya, makna-makna yang tidak bisa ia hapus, perasaan yang bukan miliknya dan tempat berdiam yang belum jadi rumah seutuhnya. Arini menangis dan jatuh tertidur, tidak ada yang menyelimutinya, tidak ada yang mengelus kepalanya, tidak ada yang menghubunginya, tidak ada selamat malam, yang ada cuma kenyataan bahwa ketidakpastian masih berjarak milyaran anak panah dari tempat ia mengira kebahagiaan bermuara di dada.
***
Kabar Baik.
Arinta pulang dan melewati jalan yang sama, perjalanan pulangnya panjang, kepalanya dipenuhi lirik lagu Coldplay – Paradise, atau sesekali , adalah Rolling in The Deep, atau, Rumor Has It. Enam, atau lima bulan terakhir hidupnya berjalan sama, lukisan-lukisannya, mural-muralnya, abstrak-abstraknya, adalah kehidupan yang mengalir sebagaimana aliran darahnya. Perempuan itu tahu bagaimana hidupnya menjadi seorang seniman jalanan tidak akan seberapa, tetapi sebab orang-orang yang dicinta tidak pernah mengerti, kadang-kadang mereka yang bahkan tidak ia kenali mampu memahami isi kepalanya dan guratan kuasnya. Sejak tiga bulan berlalu, selalu ada lelaki bermata biru yang duduk di seberang, menunggunya pulang. Ia akan melihat-lihat hasil karyanya sambil memuji, mereka akan berbincang sebentar dan lelaki itu akan pulang terlebih dahulu. Setiap akhir bulan, lelaki itu tidak pernah absen untuk memborong karya-karya Arinta yang sepi peminat—sebuah keajaiban yang tetap menyalakan obor semangat.
Arinta tidak pernah mengetahui siapa lelaki itu seperti lelaki itu tidak pernah tahu siapa Arinta. Yang ia tahu, sore ini ketika dalam perjalanan pulang, ia melihat sebuah pasar malam di dekat rumahnya, kerlip lampu sendu, dan lukisan-lukisan yang lelaki bermata biru itu menjadi ornament pelengkap di sepanjang jalan.
--untuk sebuah kebaikan yang terus mengalir.
Orang-orang berlalu lalang, kagum. Di seberang, ia tersenyum. Arinta membalasnya dengan senyuman tipis, berbalik arah, hal-hal itu tidak akan pernah bisa membuat rasa cintanya berpindah. Tetapi keberadaannya yang diakui dengan susah payah menjadi alasan untuknya menoleh sekali lagi sambil bergumam, “Arinta,” berharap karib baik hati itu dapat menangkap maksudnya memberi tahu.


Komentar
Posting Komentar