Rumpang


“Kau nih berubah, Ta. Dah nggak kaya dulu”
                Pagi ini aku bangun dengan hati yang tidak utuh, tidak beranjak sejak membuka mata. Perut dan pinggangku sakit semalam, sampai pagi ini, tapi kesenangan punya sepeda baru mengalahkannya. Semalam, aku mencoba menyesuaikan, menggowes selama hampir lebih dua puluh lima menit. Aku tidak benar-benar senang, ada sesuatu yang membuatku terus berpikir, sesuatu yang tidak membalasku balik, hal-hal yang tidak kuberani untuk aku ajukan. Aku ngebut malam itu, sudah lama tidak naik sepeda. Ingin kuteriakan semacam geraman, kadang-kadang aku sendirian.
                Pagi-pagi aku bangun setengah hati, iya, aku berubah. Banyak. Pikiranku tidak sesederhana dulu.  Perasaan-perasaan jadi pekerjaan rumah, selalu ada yang harus aku coba untuk mengerti, dan selalu ada awan hitam yang menggelayut yang kadang tidak mudah untuk disingkap, untuk berbicara seperti biasa. Sebelum berangkat pagi aku bertengkar sedikit, dengan ibuku. Kekesalan kalah dengan perasaan takut menyakiti, dan aku akan selalu menjadi hati yang luka. Biasanya aku suka hari Jumat, tetapi tidak dengan ini.
                Di kantor, aku datang terlalu pagi. Meja-meja berlibat kabel, kusut yang ada di pikirku, kelabu di hatiku. Diseberang meja, aku lihat ada Yase, tertawa-tawa, sambil curhat mengapa ia tidak mengaktifkan ponselnya juga tidak berkomunikasi. Cara Yase tertawa masih seperti zaman SMK kemarin, ngakak, terakhir nasehatnya untukku adalah, “Jaga diri ya, mba”.
                Ya Se, aku jaga. Tapi ternyata kok sulit.
                Lalu di sebelah meja ada Abkar, dia masih kecil dan kurus, mengenakan baju SMK. Putih Abu. Obrolannya tidak jauh-jauh dari MCR atau GD, tetapi Abkar tetap menatapku sambil bercerita banyak soal, dan mendengarkanku, dan membantahku, dan memelukku. “Jangan cengeng, Mba. Jangan dipikirin terus kalau ada apa-apa, tetep jadi kamu yang bodoamatan aja”
                Dulu aku masih bisa petantang-petenteng dengan skeptisku, Kar. Sekarang aku tahu rasanya berpikiran rumit dan sulitnya memulai sesuatu yang tadinya retak. Aku juga mulai tidak suka dibodoamatkan.
                Tiba-tiba di sampingku ada Tiwi juga. Manusia yang selalu panjang lebar menasehatiku—tidak pernah putus. Tapi dia akan diam kalau ada apa-apa, dan akan panjang lebar mengeluarkan keluh kesahnya kepadaku. Sadari satu hal, “Lo sekarang berubah, Ta. Berubah”
                Aku diam, ingin kupeluk bayangan ketiganya, seperti halnya saat Yase menangis dan aku jadi tempat untuk ia dekap. Pun Abkar, juga Tiwi. Tetapi mereka menghilang, menegaskan bahwa aku tidak bisa lagi sembunyi di antara dekapan mereka setiap kali beban menumpuk di kedua bahu. Sama seperti halnya aku harus tetap maju, mereka tidak lagi berjalan bersamaku setiap harinya. Hari ini aku merindukan ketiganya, hanya karena aku tidak punya tempat untuk menangis.
                Dan aku berharap bisa bicara baik-baik, seperti biasa. Tetapi sama tidak mudahnya, entah karena kebodohanku, atau rasa kepastian yang selalu ingin kucari, banyangannya bahkan enggan mampir. Jadi aku merindukan subtansinya, hujan bulan Desember yang datang sepanjang pagi. Hampir setiap hari. Juga Desember milik Efek Rumah Kaca yang bercerita tentang apa yang dinanti manusia sehabis hujan. Dan satu album lainnya sebagai pengganti karena aku tidak cukup mampu untuk bicara.
                Di penghujung lagu, aku bertemu diriku sendiri, di lengan kanannya ada ban kapten, Mading dan KIR, tanganku belepotan pewarna, jilbabku berantakan, tapi tidak dengan isi kepala dan hati.
                Aku ingat bahwa sekiranya pagi ini aku melukai perasaan mama, aku juga tidak terlalu mampu untuk berbicara dengannya. Tidak berhenti kuputar Sebelah Mata, sebagai ganti dari ketidakmampuanku menerima pesannya karena barangkali ia muak, sebagai ganti dari ketidakmampuanku untuk cerewet dan riang seperti biasa.
                Aku tidak mau pulang hari ini.

Komentar

Postingan Populer