Ojek Online; Aplikasi Sejahtera dengan Kesejahteraan yang Tidak Dimiliki Mitranya
![]() |
| (source google images) |
Transportasi Indonesia memasuki era
baru pada tahun 2014, di mana jumah transportasi berbasis online mulai marak.
Dimulai dari aplikasi buatan anak bangsa, yakni Go-Jek, rentetan akomodasi
online lainnya seperti Grab, dan Uber mulai menjamur dan disebut-sebut sebagai
salah satu terobosan dan solusi penghematan waktu dalam berkendara di
Indonesia. Semenjak kemunculannya, ojek online selalu menuai pro dan kontra, kehadirannya
memunculkan dua kubu berdasarkan sistem berkerja (online atau konvensional), belum
lagi demo-demo yang dijalankan demi menuntut berbagai hak serta keadilan, dan
banyak lagi hal-hal yang menjadi isu semenjak kehadirannya. Namun, di balik semua
itu, nyatanya kehadiran ojek online bukan hanya menjadi pilihan masyarakat
Indonesia dalam berkendara, ojek online juga mendadak menjadi salah satu
pekerjaan yang paling diminati oleh banyak orang; baik itu sebagai sambilan,
maupun sebagai pekerjaan utama. Iming-iming kemudahan bermitra, fleksibilitas
waktu, dan kemudahan sistem kerja membuat banyak orang tergiur untuk menjadi mitra
dari salah satu platform ojek online di Indonesia. Namun, apakah segala
kemudahan tersebut benar-benar terealisasi semudah demo aplikasi berbagai
platform ojek online ini?
Sistem Kerja Berkonsep Gaming
Bagi para pengemudi
ojek online yang menjadikan platform ojek online sebagai sumber penghasilan
utama, penghasilan perhari dari ojek online sangat kecil untuk menutupi
kebutuhan mereka, terutama untuk para pengemudi yang sudah berkeluarga.
Realitanya selama ini, berdasarkan beberapa pengalaman saya dalam menggunakan
ojek online, seringkali beberapa percakapan terjadi selama perjalanan. Ojek
online, bagi sebagian besar pengemudi bukan hanya sebatas pekerjaan sambilan,
tetapi mereka juga menjadikan profesi ojek online sebagai profesi utama.
Beberapa mereka telah berkeluarga, hal ini menjadi alasan kuat mengapa
penghasilan perhari dari ojek online tidak cukup mampu untuk memenuhi kebutuhan
sehari-hari, maka dari itu, mayoritas dari mereka mengejar bonus dari jumlah
tarikan mereka. Jumlah bonus dari setiap platform ojek online memang
berbeda-beda, tetapi untuk mendapatkannya, setiap pengemudi nyaris harus
melakukan hal yang sama, yakni memenuhi target presentase agar mereka dapat
mendapatkan bonus.
Sistem
semacam ini membentuk pola gaming
dalam pekerjaan di mana kerja yang dibuat menyerupai permainan. Perusahaan
menentukan target pencapaian, sementara pekerja atau pengemudi tidak hanya
sesederhana memberikan tumpangan, tapi juga permainan matematika: poin, bonus,
persentase performa, dan rating agar mendapatkan upah yang cukup. Namun, aturan permainan tidak jelas.
Seringkali persentase kinerja pengemudi tidak bertambah meski mereka telah
menyelesaikan pesanan. Mirisnya, jika order dibatalkan–baik oleh pengemudi maupun
pelanggan–persentase performa mereka jatuh drastis.
Deposit,
bonus dan pendapatan non-tunai dari transaksi e-money (gopay, grabpay) yang pengemudi dapatkan sifatnya pun masih
rawan, dalam sistem kerjanya, customer menempati posisi sebagai penentu di mana
mereka dapat menilai dengan sesuka jempol berdasarkan ketidaknyamanan sepihak.
Marak kejadian yang dikuak oleh salah satu akun hiburan di instagram,
@dramaojol.id di mana para pengemudi tidak dapat mengambil uang yang ada dalam
akun mereka karena suspend yang
disebabkan oleh penilaian atau komentar buruk dari customer.
Bermitra?
Sejak awal bergabung menjadi salah
satu pengemudi ojek online, para pengemudi lepas dari segala aturan hukum dan
perlindungan kerja. Semakin mereka berkerja dengan keras, semakin bertambah
pula pengeluaran untuk perawatan motor, bahan bakar, belum lagi biaya parkir,
juga asuransi kedaraan. Belum lagi resiko kecelakaan yang pengemudi hadapi,
semuanya ditanggung sendiri oleh para pengemudi. Rating dan prensentase sangat
mempengaruhi performa, sementara perusahaan hampir selalu berpihak kepada
customer, terbukti dengan mudahnya mereka men-suspend pengemudi hanya dengan penilaian sepihak.
Mengapa Gojek atau Grab tidak
sekalian saja mengeluarkan fitur di mana seorang pengemudi dapat menilai
customernya? Mengapa tidak diterapkan sistem yang sama dalam penilaian? Mungkin
ini yang mejadi pekerjaan rumah untuk Gojek dan Grab ditengah aplikasi mereka
yang masih rentan dan masih banyak terdapat bugs.
Aplikasi Sejahtera dengan Kesejahteraan yang Tidak Dimiliki Mitranya
Mengutip dari harian
Kompas Tekno, per 18 Desember 2017 aplikasi Go-Jek dipakai secara aktif oleh 15 juta orang setiap
minggunya. Para weekly active user ini
dilayani sekitar 900.000 mitra pengemudi Go-Jek. Jumlah yang sangat fantastis
jika kita ingin menghitung berapa seluruh profit yang di dapatkan oleh Go-Jek,
hitunglah setiap tahunnya. Belum lagi pendapatan dari database, sponsor,
125.000 merchant yang kini ikut
berkerja sama dan para investor. Jadi, jika ada pertanyaan, “Mengapa perusahaan
transportasi online masih tetap berdiri dengan segala tawaran harga dan
diskon-diskon yang sangat murah?” jawabannya adalah, karena roda ekonomi mereka
tidak bergerak pada satu titik.
Dengan
data ini, seharusnya para petinggi perusahaan transportasi online mulai
memikirkan hak-hak para mitranya, seperti adanya jaminan serta keselamatan
kerja, juga dari sisi aplikasi, dan aturan suspend
sampai pembekuan deposit pada akun pengemudi. Sudah semestinya para pengemudi memiliki hak untuk menilai
customernya, karena kesalahan tidak selalu datang dari mereka para pengemudi.
---
*Sumber referensi sekaligus terima kasih untuk;



Komentar
Posting Komentar