Mimpimu, Ibu
![]() |
| (Source picture: google.com/sendu+tumblr) |
Hujan, kau
ingatkan aku..
Tentang, satu rindu..
Dimasa yang lalu.. Saat mimpi
masih indah bersamamu..
(Opick ft. Amanda- Satu Rindu)
*
Ibuku
selalu senang bercerita. Ya, ia bercerita tentang apa saja. Ia bercerita
tentang betapa menggemaskannya anak-anak di PAUD tempat ia mengajar, ia
bercerita tentang mesin jahitnya yang sering ngadat, ia bercerita tentang
kegiatan ibu-ibu PKK yang terkadang membosankan, ia bercerita tentang arisannya
bersama ibu-ibu yang lain, ia bercerita soal penggerebekan rental Playstation
di daerah tempat dulu kami pernah tinggal. Ibuku selalu bercerita, ia suka
bercerita dan selalu membagi ceritanya. Menyenangkan mendengarnya, mengetahui
banyak sesuatu yang tidak sempat untuk aku ketahui. Setidaknya, dengan
mendengarnya bercerita tentang apa saja, aku punya alasan untuk melepaskan
perasaan dan urusanku pribadi, dan aku akan selalu ada untuk Ibuku tercinta.
Namun,
akhir-akhir ini Ibuku terlihat.. menyebalkan.
Ya,
seberapa besar rasa sayang seseorang kepada orang lain? Untuk beberapa alasan,
sebuah hati pasti pernah merasakan ketidaknyamanan. Merasa tidak begitu tepat,
dan tidak bersahabat sama sekali.
Biasanya,
aku suka mendengarkan Ibuku bercerita. Aku akan mendengarkannya sambil minum
kopi, menjahit sarung bantal, menulis pekerjaan rumah, membersihkan
piring-piring kotor, atau apapun. Sore itu, Ibuku kembali bercerita, dan aku
seperti biasa, selalu ada untuk mendengarkannya.
Ia
ingin naik haji, betapa itu menjadi mimpi besarnya selama ini. Bisa naik pesawat
terbang ke Mekkah, bersama Bapakku, atau mungkin jika beruntung, bersama aku,
putrinya tercinta. Ia ingin sekali ke Mekkah, menjalankan rukun Islam yang
kelima, bertanya kapan ia akan punya kesempatan untuk kesana? Menerawang jauh
sambil tersenyum, harapan tidak pernah pudar dari matanya yang bening dan indah
itu. Lalu aku katakan, bahwa di jaman sekarang kita harus menunggu lama untuk
naik haji, beberapa tahun mungkin, atau sampai kapan, aku berkata entahlah.
Lalu
ibuku meninggalkan percakapan tentang naik haji itu, melompat ke cerita tentang
anak kerabatnya yang hanya lulusan SMA swasta, tetapi sekarang sudah menjadi
pegawai di kantor pajak dengan gaji yang lumayan. Ia kemudian memberitahuku
kabar sobat masa kecilku, ia bilang ia tidak akan ambil kuliah karena ia hanya
ingin bekerja untuk keluarganya, kuliah hanya akan membuatnya repot, begitu.
Ibuku bercerita tentang betapa senangnya ia jika ia memiliki seorang anak yang
bekerja lantas dapat membuatnya bahagia.
Aku
masih setia mendengarkannya, mencoba menanggapinya sambil tersenyum seperti
biasa. Sampai pada akhirnya Ibuku benar-benar bertanya, "Kamu benar-benar
yakin akan meneruskan pendidikanmu?"
Oh
Ibu, yang aku tahu dan yang mampu aku ingat, kau sudah beribu kali resah
menanyakan soal ini dan kau sudah berkali-kali merestuiku dengan berkata.
"Seterah kamu, gimana baiknya aja"
Betapa
bahagianya aku mendapatkan restu itu, Ibu tahu? Tapi itu sore yang indah,
mendung bersama awan kelabu pekat juga hujan yang lembut turun, berada berdua
dengan Ibu sambil menikmati hujan sampai akhirnya Ibu bercerita seperti itu. Perempuan
itu bekerja di kantor pajak kenamaan, dan ia tidak perlu repot-repot kuliah,
bukankah itu mengesankan Ibu? Teman lamaku yang benar-benar akan menjadi
pekerja sepenuhnya, mengagumkan bukan?
Sore
itu, ketika Ibu menyelesaikan cerita-cerita menyenangkan itu, aku benar-benar
terpaksa menghela nafasku dengan berat dan tiba-tiba saja sebuah beban yang
entah apa membuat punggungku sakit. Aku meyakinkan Ibuku; bahwa setiap orang
punya mimpi yang berbeda-beda, aku punya cita-cita, semua orang punya cita-cita
yang sayangnya cita-cita itu tidak mungkin sama. Jadi betapa jelas jika jalan
yang kita tempuh berbeda, tidakkah itu membuat Ibu mengerti? Ya, jika Ibu
benar-benar ingin mengetahuinya. Aku sungguh punya banyak mimpi, diantara
mimpi-mimpi itu aku memasukkan mimpi-mimpi Ibu juga. Suatu hari aku akan merasa
sangat berarti jika mewujudkannya untuk Ibu, melihat Ibu tersenyum, karena
nanti Ibu tidak lagi perlu bermimpi.
Namun
penjelasan yang aku buat sebegitu meyakinkan hanya Ibu balas dengan kalimat,
"Kerja aja dulu, baru mimpi yang banyak"
Aku
terdiam, lama. Memperhatikan raut wajah Ibu yang begitu berbeda.
"Perempuan
juga ujung-ujungnya di dapur, kok" pungkas Ibu, lalu Ia meninggalkanku
sendirian di beranda rumah.
Hujan
masih turun dengan deras, kini tidak lagi begitu indah.
Andai
saja situasinya tidak begitu buruk, bolehkah aku bertanya soal mimpi-mimpi
Ibuku dulu? Kalut, aku berpikir. Lalu aku harus apa? Tidak lebih merasa seperti
anak kecil yang baru saja memasuki sekolah dasar dengan tas merah jambu dan
rambut kuncir dua, tersenyum polos, dan mimpi-mimpi adalah kenangan yang tidak
berarti. Kosong. Hampa. Seperti mimpi bertemu Kamen Rider, atau mimpi menjadi
salah satu dari anggota Power Rangers. Apakah mimpiku terlihat seperti itu
untuk Ibuku?
Tidak
tahu.
Ya,
kali ini, sungguh. Aku tidak menyukai cerita Ibuku. Ingin aku menghapusnya,
membumihanguskan seluruh perkataan Ibu sore ini dari pikiranku. Tidak perduli
dengan perempuan yang bekerja di kantor pajak itu, bodo amat dengan teman
lamaku yang selamanya ingin jadi karyawan, aku tahu kemana aku harus melangkah,
aku tidak merasa perlu menjadi karwayan dulu untuk menggapai semua mimpiku. Ah,
apakah aku terlalu angkuh?
Karena
aku juga perempuan biasa. Tidak mungkin selamanya aku penuh dengan mimpi. Aku
tidak begitu, karena mimpiku adalah mimpi Ibuku juga. Dan apa yang akan aku
perjuangkan menjadi nyata bukan hanya semata-mata khayalku belaka, aku tahu aku
melakukannya untuk siapa, aku tahu. Jadi, aku ingin Ibuku tahu bahwa dari
sekian banyak mimpiku yang terdengar ngawur untuknya, aku juga punya mimpi
untuk menjadi perempuan yang kembali berada di dapur. Menjadi seorang Ibu
seperti Ibuku, punya kehidupan seperti Ibuku, dan membahagiakan Ibuku dimasa
tuanya.
Ibuku—kutebak
Ia bahkan sudah terlalu muak—untuk tetap mendengarkan anaknya yang
terus-terusan bermimpi. Tidak seperti dirinya yang selalu punya cerita nyata
untuk dibagi. Tapi andaikan ia mendengarkanku barang sebentar saja, aku juga
ingin menjadi perempuan yang pada akhirnya kembali ke dapur dengan catatan;
dapurku akan lebih bersih, rapi, satu set
kitchen ada di sana, dan baik aku maupun Ibu tidak perlu repot mencari ini
itu kalau-kalau suatu hari nanti Ibu ada rencana untuk membuat kue bersamaku,
iya, kan?
Aku
menoleh ke dalam ruang tamu, Ibuku tidak ada di sana. Tuhan, salahkah bila sore
ini saja aku tidak menyukai ceritanya? Salahkah jika aku tidak menyukainya
karena aku punya cerita yang lebih menjanjikan meskipun cerita itu belum nyata
adanya? Ibu, aku hanya ingin Ibuku tahu bahwa semua mimpiku adalah
mimpi-mimpinya dulu. Suatu hari aku akan merasa sangat berarti jika
mewujudkannya untuk Ibu, melihat Ibu tersenyum, karena nanti Ibu tidak lagi
perlu bermimpi.
... karena nanti Ibu tidak lagi
perlu bermimpi.
*Jakarta, 12 Februari 2016, 22.36
Hujan malam ini deras sekali....



Wahhhh semoga mimpi ibux tercapai ya kak😘 dan tentunya mimpi kakak jga😘😘😘
BalasHapusAamiin.. Trims kak Rifah :*
Hapus