[ Karya Ilmiah ] Analisis Degradasi Persinetronan Indonesia, dan Eksistensi Seorang Penulis Skenario di Belakangnya
![]() |
| Image source: Google. Versi sederhana, karya ini dipublikasi tanpa daftar isi |
KATA PENGANTAR
Assalamualaikum
warahmatullahi wabarakatuh..
Alhamdulilah, segala puji bagi Allah
SWT. yang karena karunia-Nya, penulis dapat menyusun karya ilmiah ini dengan
keadaan sehat baik jasmani maupun rohani. Shalawat serta salam tidak lupa penulis
haturkan kepada baginda Nabi Muhammad saw. yang telah membawa segenap umatnya
dari zaman kegelapan, menuju zaman yang terang benderang.
Dewasa kini, tayangan yang beredar pada
pertelevisian Indonesia sangatlah beragam, terutama dalam fokus sinema. Namun
tak ubahnya suatu perjalanan, dunia sineas Indonesia juga mengalami banyak
perubahan seiring dengan perkembangan zaman. Begitu banyak perbedaan yang akan
kita temukan bila kita mau meneliti lebih jauh lagi aspek-aspek sineas
Indonesia pada masa kini dan masa lampau. Pada karya ilmiah kali ini, penulis
akan mencoba mengulas hal-hal berkaitan dengan sineas Indonesia, namun agaknya
penulis akan persempit pembahasannya menjadi lebih fokus kepada dunia
persinetronan saja, baik dari segi alur cerita maupun pada penulisan
skenarionya.
Karya Ilmiah ini dibuat untuk
memenuhi tugas Bahasa Indonesia II, dalam karya ini penulis sadar betul
pembimbing akan menemukan beberapa cela dan kekurangan. Untuk itu mohon kiranya
untuk kritik dan saran agar penulis dapat menyusun sebuah karya ilmiah yang
lebih baik lagi dimasa mendatang, terima kasih.
Wassalamualaikum wr. wb
Jakarta,
5 April 2017
Rolyta
Nur Utami
BAB I
PENDAHULUAN
1.1.
Latar Belakang
“Film,
adalah sebuah realisasi nyata dari aksara yang bersifat fiktif, maupun empiris”,
agaknya memang itu ungkapan yang paling tepat untuk menggambarkan bagaimana
sebuah karya fiksi menjadi suatu dimensi lain selain dalam bentuk tulisan.
Kehadiran tayangan sendiri telah sejak lama ada bahkan sebelum manusia
menemukan televise sebagai media elektronik yang pada akhirnya lebih memudahkan
mereka dalam menonton atau menikmati sebuah tayangan. Di Indonesia sendiri
misalnya, dunia peran telah lama berkembang bahkan secara adat istiadat,
menyatu dalam banyak kebudayaan masyarakat Nusantara yang beragam dengan tema
dan kemasan yang beragam pula, sebagai contoh tontonan atau seni peran
tradisional Indonesia sebelum akhirnya dunia sineas menjadi primadona masa kini
adalah lenong, ludruk, ketoprak, dan sebagainya.
Dunia sineas Indonesia agaknya memang
tidak pernah berhenti membuat tanyangan untuk para pemirsanya, baik dari dunia
perfilman, maupun persinetronan. Namun setiap aspek dan fokus pastilah memiliki
perkembangan, tidak terkecuali pada sineas ini sendiri. Berdasarkan penelitian
dan pengamatan yang penulis lakukan, dunia sineas Indonesia mengalami perubahan
yang begitu drastis dalam setiap tayangannya, semua itu menyentuh cukup banyak
segi, beberapa pengamatan itu akan penulis uraikan pada karya ilmiah ini.
Jika kita melihat ke belakang, agaknya
genre dan sifat persoalan yang diangkat dalam dunia persinetronan masa lalu
lebih beragam dibanding dunia persinetronan dalam rentang tahun 2016 keatas,
hal-hal berikut akan diulas dalam karya ilmiah ini dengan beberapa rujukan yang
akan penulis cantumkan baik pada catatan kaki, maupun pada daftar pustaka pada
bagian akhir. Selanjutnya, karya ilmiah ini akan terfokus pada pembahasan dunia
persinetronan Indonesia yang diisukan tengah mengalami degradasi moral.
1.2.
Rumusan Masalah
1. Apa
yang menjadi pembeda antara dunia persinetronan pada masa lampau dengan masa
kini?
2. Mengapa
terjadi perubahan drastis diatara dunia persinetronan pada masa lampau dengan
masa kini?
3. Kapankah
dunia persinetronan Indonesia mengalami perubahan yang begitu drastis?
4. Siapa
saja pihak-pihak yang berperan dan berkontribusi banyak terhadap perubahan ini?
1.3.
Tujuan Penulisan
1. Membongkar
faktor internal maupun eksternal dalam perkembangan dunia persinetronan
Indonesia.
2. Menganalisis
dan mengetahui hal-hal apa saja yang mempengaruhi jalan cerita dan
kecenderungan dalam tema sinetron masa lampau, dan sinetron masa kini.
3. Mengetahui
selera penonton Indonesia, dan kecenderungannya terhadap genre dan isi cerita.
1.4.
Manfaat Penulisan
1. Pembaca
dapat mengetahui faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi perkembangan
persinetronan Indonesia baik dari faktor internal, maupun eksternal.
2. Pembaca
dapat mengetahui kecenderungan tema sinetron pada masa lampau dan masa kini,
serta menyimpulkan apakah tema tersebut bersifat monoton, ataukah tidak.
3. Melalui
pengamatan dan penelitian ini pembaca dapat mengetahui kecenderungan genre yang
banyak diminati oleh para penonton di Indonesia dari semua rentang usia
sehingga nantinya pembaca dapat menyimpulkan sendiri apakah sebuah genre juga
dibentuk oleh seorang sutradara dan penulis skenario, ataukah hanya dibuat
untuk memuaskan imajinasi pemirsa semata.
BAB 2
PEMBAHASAN
2.1. Tempoe Doeloe vs Zaman
Millenium
Meminjam
perkataan seorang pengamat sinetron, Ade Irwansyah, beliau pernah mengatakan
demikian, “Penggemar
sinetron enggak akan pernah habis.
Mau apapun genrenya, pokoknya orang Indonesia itu suka sama yang berbau drama.
Kalau ada yang disiksa, ada yang sedih, mereka pasti nonton,”. Maka jika
demikian adanya, maka kedudukan di Indonesia selalu mendapatkan tempat dihati
para penggemarnya—entah yang memang penggemar penonton garis keras, atau yang
hanya iseng-iseng pindah chanel karena acara berita justru malah terkesan
membosankan—persinetronan di Indonesia nyatanya masih memiliki tempat di hati
para masyarakat.
Ada
beberapa perbedaan yang mencolok pada sinetron produksi tempo dulu dan produksi
masa kini, baik dari segi yang sudah siap menjadi sebuah tontonan per-adegan,
maupun yang masih dalam berbentuk sebuah skenario. Berikut akan penulis uraikan
secara detail beberapa perbedaan dari sinetron produksi tempo dulu dan produksi
masa kini:
1. Jumlah
tayangan yang menggugah minat vs tayangan rasa ‘abadi’
Mengapa saya sebutkan seperti diatas? Kalau boleh
kembali untuk mengingat sinetron era 90-an, para penontonnya akan dibuat asik
karena tidak setiap hari sebuah sinetron akan tayang. PH (Production
House/Rumah Produksi) memiliki aturan yang berbeda pada masa itu. Mereka tidak
menayangkan episode sinetron setiap hari, melainkan pada hari-hari tertentu
saja. Misalnya, dalam jangka waktu seminggu sebuah sinetron tertentu hanya akan
tayang pda hari Senin, Selasa, dan Jumat. Jadwal seperti ini akan memberikan
keleluasaan pada pihak rumah produksi untuk mematangkan setiap episodenya,
selain itu seorang penulis scenario juga punya ruang untuk bernafas untuk
membuat sebuah alur cerita yang akan dimainkan untuk selanjutnya. Hal ini juga
berpengaruh pada kualitas sebuah tulisan.
Berbeda dengan sinetron masa kini yang hampir setiap
hari selalu tayang, dan acapkali, karena ratingnya yang tinggi, sinetron yang
semula hanya berdurasi enampuluh menit per-episode digandakan menjadi berdurasi
seratus duapuluh menit, hanya karena rating yang tinggi. Perhatikan, sistem stripping seperti ini terbukti tidak
membuat sebuah sinetron menjadi lebih berkualitas baik dari segi penayangan
maupun skenario. Sinetron menjadi sebagai alat hiduran semata dan nilai-nilai
esetetika serta pesan-pesan kehidupan memudar seiring dengan lebih pentingnya
rating dibanding sebuah kualitas.
2. Kualitas
Aktor
Pada era tahun 90-an, kita mengenal banyak artis-artis
sinetron senior yang sudah tidak perlu diragukan lagi kemampuannya, sebut saja
Rano Karno misalnya. Pada era tahun 90-an, seleksi pemain sinetron tidak hanya
berdasarkan tampilan fisik belaka, namun juga bakat dan kualitas yang dimiliki
dan kemampuan seorang aktris dalam memahami sebuah skenario. Dewasa kini, dunia
persinetronan agaknya lebih banyak memfokuskan pada aktris yang memiliki
potensi sebagai ‘tokoh impian’ para pemirsa sinetron. Akibatnya, disamping
ketenaran yang sama instannya dengan keboomingan, kualitas sinetron juga
dipertanyakan karena posisinya yang menempatkan pemain amatiaran bermodal
‘tampang impian’ sebagai pemeran utamanya.
Kembali
saya akan mengutip salah satu ucapan saudara Ade Irwansyah, "Kalau zaman dahulu, para artis
memiliki banyak waktu untuk memahami skrip. Kalau sekarang, baru dikasih
langsung disuruh action,". Secara eksplisit, sinetron Indonesia
terbukti telah membentuk pola pikir masyarakat. Sinetron bergenre drama dengan
alur cerita jauh dari kenyataan tetap menjadi favorit para pemirsa dari masa ke
masa. Aspek cerita, penggarapan skenario yang dipaksa matang sebelum waktunya
barangkali juga menjadi alasan mengapa dunia persinetronan masa kini cenderung
begitu payah.
“Penggemar sinetron enggak akan pernah habis. Pokoknya orang
Indonesia suka sama yang berbau drama. Kalau ada yang disiksa, ada yang sedih,
mereka pasti nonton,” Ujar Ade Irawan lagi.Itu artinya, masuk akal atau tak
masuk akal alur cerita jadi nomor dua. Yang penting: drama.
3.
Genre
yang beragam vs Genre yang itu-itu saja
Kira-kira,
kapan terakhir kali anda sebagai masyarakat Indonesia menikmati sebuah sinetron
produksi Indonesia dengan genre laga atau kolosal? Pastilah telah cukup lama.
Sinetron yang mengangkat tema kehidupan pada masa kerajaan memang hampir tidak
pernah kita jumpai lagi di stasiun televise, dan kalaupun ada, itu pasti hanya
ulangan; seperti misalnya stasiun Rajawali TV yang menayangkan ulang sinetron
“Legenda Gunung Merapi” untuk mengobati rasa rindu para generasi 90-an yang
barangkali tengah jengah dengan sinema-sinema yang ditawarkan hari ini. Pada
era 90-an, para penikmat sinetron Indonesia akan menemukan genre-genre beragam
pada setiap sinetron favorit masing-masing. Tidak hanya terpaku pada soal
romansa, tema-tema juga fleksibel dan meluas, ada pula drama kolosal yang masih
kental dengan kehidupan kerajaan, ada yang bertema keluarga, bahkan fantasi
superhero sekelas Saraz dan Gerhana sekalipun menjadi menarik pada masanya.
Berbeda dengan sinetron-sinetron masa kini
yang terkena fenomena epigon (mengekor). Kecenderungannya seperti menjadi jika
ada salah satu tema sinetron yang rilis dan menjadi booming di pasaran, maka
tidak perlu menunggu sampai sinetron dengan tema yang masih fresh tersebut
habis pun telah terbit sinetron-sinetron serupa—yang anehnya, juga memiliki
penggandrung tersendiri. Semacam mengalami penyempitan pada saraf
kreatifitasnya. Misalnya saja pada saat ini, fenomena sinetron bernafaskan
kehidupan remaja yang cenderung menghadirkan gambaran kehidupan sosial
akhir-akhir ini menjadi yang paling banyak diangkat temanya.
4.
Orisinal
vs Saduran
Karya-karya
pada masa lalu adalah karya-karya orisinil yang tertuang dari para penulis-penulis
berbakat kepunyaan Indonesia, maka dari itu keseberagaman tema lebih banyak
kita temui pada sinetron-sinetron terdahulu dibandingkan sinetron masa kini.
Mengapa? Karena berdasarkan pengamatan penulis, semenjak era drama luar seperi
drama Korea, dorama Jepang, dan telenovela Spanyol menjadi booming di
Indonesia, para pihak PH kemudian mulai menyesuaikan dengan mengambil seluruh
unsur dalam drama-drama luar dan di implementasikan kembali dalam versi sinetron
Indonesia. Hal ini sempat menuai banyak kritik, karena hal tersebut sangat dan
cenderung begitu dipaksakan.
5.
Penulis
skenario idola vs yang hilang ditelan beribu episode
Singkat
saja, penulis skenario namanya juga tidak kalah tenar dengan para pemain
dramanya, walaupun jadinya tidak akan setenar artis utama, tetapi pada akhirnya
eksistensi mereka ada minimal dalam suatu komunitas seni dan sastra misalnya.
Mereka ada karena karya mereka layak dan memberi banyak sesuatu yang baru juga
inspirasi, itu yang membuat mereka dikenal khalayak umum. Sementara, pernahkah
penulis skenario pada masa kini terdengar namanya? Eksistensinya? Ya, mereka
lenyap bersama deadline yang mencekik mereka setiap hari, tenggelam dalam
ribuan episode dan keluar dengan akhir cerita yang sama sekali tidak logis dan
kadang terkesan aneh. Betapa ironis.
6.
Penulis
skenario yang mengembangkan vs Penulis skenario yang dikembangkan
Era
persinetronan tahun 90-an melahirkan penulis-penulis skenario yang kaya akan kreasi. Pada masa itu para PH masih membuka lowongan
sebesar-sebesarnya untuk karya kreatif yang nantinya akan mereka angkat ke
layar kaca, untuk kemudian disuguhkan kepada masyarakat Indonesia. Penulis
skenario pada era 90-an mengambangkan idenya untuk menembus batas-batas tingkat
kretifitas yang sebuah PH ajukan. Berbeda dengan trend sinetron stripping alias
kejar tayang, deadline yang rapat dan kebutuhan atas ‘kehidupan lain’masyarakat
harus disuapi tiap jam prime time setiap harinya membuat posisi seorang penulis
skenario menjadi seorang yang dikembangkan oleh tuntutan. Ia harus berkerja
dengan batas-batas khayali indah para pemirsa atau sinetron itu akan kehilangan
satu episodenya.
2.2. Perubahan Drastis, dan Dilematis Para Penulis Skenario.
‘… mereka
diajak untuk berada dalam wilayah antah berantah, di bawah indahnya awan biru,
tempat bunga-bunga bermekaran, burung-burung bernyanyi, semua hidup tenang dan
serba berkecukupan.’
—Prisgunanto (2004: 241).
Ulasan
pada bagian sebelumnya setidaknya telah menjelaskan secara jelas apa yang
menjadi perbedaan kontras antara sinetron tempo dulu dan sinetron masa kini. Dari
hasil pengamatan penulis, faktor terbesar yang mendalangi segala perubahan yang
major ini adalah kepentingan seni yang tergeser oleh kepentingan materialistis
para penggiat sinetron yang lebih mementingkan rating dibanding sebuah
kualitas. Segmen penonton yang terlanjur jatuh cinta dengan kehidupan mimpi
yang dijual oleh sinetron masa kini juga menjadi salah satu penyebabnya.
Pergeseran
nilai ini dapat kita lihat pada saat sinetron “Dunia Tanpa Koma” yang pertama
kali tayang di salah satu stasiun televise swasta Indonesia pada 9 September
2006[1]
ini menceritakan tentang kehidupan seorang wartawati, Raya
Maryadi—yang diperankan oleh Dian Sastrowardoyo—yang ingin terlibat dalam
arus perubahan negeri melalui investigasinya yang kuat untuk membongkar
jaringan narkotika
nasional pimpinan Jendra Aditya—yang diperankan oleh Surya
Saputra—mantan kekasihnya. Selain itu, disini juga ada kisah lain tentang kesetaraan
gender, di mana Monita—yang diperankan oleh Intan
Nuraini—bintang sinetron muda yang sedang tenar diperkosa oleh lawan mainnya
sendiri. Dan juga disisipi kisah asmara Raya dengan Bayu—yang diperankan oleh
Tora Sudiro—dan Bram, yang diperankan oleh Fauzi
Baadilla. Sinetron yang memiliki aspek dan tema yang cukup menarik ini pada
akhirnya terpaksa diberhentikan, alasannya lagi-lagi karena ratingnya yang
memprihatinkan. Sedikit catatan, skenario “Dunia Tanpa Koma” ini ditulis oleh
salah satu cerpenis sekaligus seorang sastrawati kenamaan Indonesia, yaitu
Leila S. Chudori.
Menanggapi
hal diatas, penulis teringat akan sebuah ulasan yang dengan gamblang
menjelaskan tentang keadaan para penulis skenario pada saat ini. Dikutip dari
sesi wawancara yang juga telah dimuat dalam vice.com, beberapa penulis skenario
dan penggiat produksi sinetron yang disamarkan namanya untuk stasiun televise
swasta pun mengungkapkan kejujurannya mengenai situasi yang kini tengah
berlangsung.
Salah
satu kru yang telah terlibat banyak dalam proses penggarapan—kita sebut saja ia
sebagai Ilham—mengatakan bahwa penggarapan sinetron yang tayang hampir setiap
hari sungguh membuatnya kerepotan, iya berujar, “… kalau sinetron itu ya gitu
karena waktunya bayangin aja kita harus bikin satu episode satu hari, besok
sehari lagi terus aja begitu tiap hari. Bayangin saja saya setahun lebih
ngerjain itu setiap hari engga berhenti tanpa ada libur”. Selain itu, Ilham juga
menambahkan keterangan yang cukup ironis mengingat begitu banyaknya masyarakat
yang mengeluhkan kualitas dari sinetron masa kini, “Sebenarnya Indonesia tidak
kekurangan penulis berkualitas, tapi kan ya itu dari permintaan stasiun
televise-nya juga”
Jadi,
permasalahannya semakin jelas. Yang membuat persinetronan Indonesia turun
kualitas bukan semata-mata dari penulis skenario yang alih-alih selalu
dikambing-hitamkan dengan alasan skenarionya yang sama sekali tidak bermutu,
tetapi ternyata pihak ekstern juga ikut andil dalam mengapa persinetronan
negeri ini mengalami degradasi moral yang cukup jauh. Pun, pada salah satu
perkuliahan, saya mengutip salah satu perkataan yang dilontarkan oleh salah
dosen saya saat mata kuliah Pengantar Kajian Sastra II berlangsung, dosen saya
bilang, “ Jangan-jangan,
sinetron-sinetron yang ada di teve-teve itu juga di invasi oleh salah satu
merek atau brand tertentu”, pernyataan ini dilontarkan sehubungan dengan
diskusi fenomena persinetronan Indonesia yang akhir-akhir ini selalu menyajikan
tema dan alur cerita yang sama (terutama yang mengekspos kegiatan bermotor anak-anak
remaja yang sangat tidak logis).
Jadi
dalam konteks ini, degradasi persinetronan di Indonesia memang agaknya di dalangi
justru oleh pihak-pihak yang berwenang dan mempunyai kekuasaan lebih dalam
proses penggarapannya. Mereka melihat peluang berdagang mimpi dengan pintar,
kehidupan yang ditawarkan oleh realita agaknya terasa membosankan dan para
penggarap industri sinetron dan antek-anteknya menawarkan solusi lain bingkai
hidup serba baik yang akhirnya cuma bisa disentuh dengan jadwal enampuluh menit
sekali dalam sehari via layar kaca.
2.3.
Bagaimana bisa kembali?
Pertanyaan yang cukup sulit untuk
dijawab mengingat fenomena tersebut masih berjalan, pun hingga detik ini.
Satu-satunya harapan adalah dengan ikut andilnya dan peraturan yang ketat
perihal tayangan yang lebih bermoral dari Komisi Penyiaran Indonesia (KPI).
Sebenarnya memang, Indonesia hampir tidak pernah mengalami kekeringan seorang
penggiat karya, hanya saja, yang lebih banyak tampil di pertelevisian Indonesia
memang tayangan-tayangan yang disokong oleh media-media major sekelas stasiun
televise swasta.
BAB III
PENUTUP
3.1. Kesimpulan
Persinetronan
Indonesia telah mengalami banyak perubahan seiring perkembangan zaman,
nilai-nilai estetika dan moral pun rasanya telah cukup sulit untuk dijumpai
pada sinetron masa kini. Bukan hanya itu saja, hal ini juga berdampak pada
kreatifitas seorang penulis scenario yang harus merasa frustasi dengan deadline
yang hanya berjangka satu hari dan kemampuan berekspresinya barangkali menjadi
tumpul bersebab ia tersekat oleh prinsip-prinsip tayangan yang ‘jualan mimpi’,
maka dari itu rasa-rasanya perlu ada pioneer yang berani menggubah persinetronan
Indonesia menjadi lebih baik lagi, baik dari segi penayangan, maupun dari segi
cerita.
3.2. Saran
Sebagai
warga Indonesia, ada baiknya kita juga membangun karakter dan lebih cerdas
dalam memilih tontonan. Dan, perlu digarisbawahi juga, sebagai generasi muda
bangsa ada baiknya kita tidak hanya sebagai orang yang selalu berkomentar
tentang betapa buruknya persinetronan di negeri ini, tetapi alangkah baiknya
jika kita—para generasi muda menjadi pioneer-pioner perubahan yang membawa
sineas Indonesia, terutama dalam persinetronan Indonesia.
DAFTAR
PUSTAKA
Kinoysan,
Ari. 2013. Jadi Penulis Skenario? Gampang
Kok!. Yogyakarta: Andi Publishing.
https://kumparan.com/yufienda-novitasari1487564166554/beda-wajah-sinetron-indonesia-dulu-dan-kini,
diakses pada Jumat, 7 April 2017 pada pukul 10.00
https://www.vice.com/id_id/article/dilema-para-penulis-pabrik-naskah-sinetron-indonesia,
diakses pada Kamis, 6 April 2017 pada pukul 16.00
***
*Karya Ilmiah ini diajukan sebagai syarat tugas dari mata kuliah Bahasa Indonesia II. Selesai ditulis oleh saya sendiri pada Jumat, 7 April 207 pada pukul 20.00 wib. Kritik dan sarannya bisa dimasukan di kolom komentar mengingat ini tulisan saya seputar non fiksi yang sifatnya masih sangat anyar.
**Best Regards untuk dosen Bahasa Indonesia II yang mengusung tugas ini, selamat membaca! :)



SALAM ODOSH
BalasHapus1. Kurangi kata kata "agaknya", menandakan bahwa penulis kurang yakin. Prnukis harus bisa membawa pembaca hanyut
2. Terjadi pengulangan pernyataan wawancara
3. Kalau bisa diserta tabel antar drama tahun 90 an dan era millineum. Biar tahu perbedaanya
4. Kesimpulan blm menjawab tujuan.
5. Cb cek jawaban tujuan dan masalah di bagian oembahasan, apakah sudah terjawab atau belum.
Terima kasih bung Andi, koreksinya sangat membantu sekali. Usul, bagaimana kalau di ODOS kita hadirkan materi menulis karya ilmiah dan esai? Sangat membantu terutama untuk saya si pemula, :D
HapusSalam ODOS (One Day One Share)
Dulu udah pernah essay udah. Tapi rencananya ilmiah kagi mau di bahas
BalasHapusMau jadi PH nya
BalasHapus??
PJ
BalasHapusRalat
Wah, berarti yang pas Esai saya terlewat ya. Boleh bung Andi, sila jelaskan sistematisnya via japri saja.
Hapus