Aku bisu, menatapnya dengan dingin yang menguar..
Pun aku, tidak ingin membalas tutur sapanya, meskipun ia mulai menatapku
penuh sangsi..
Di kepalanya lahir banyak tanya mengapa, mengapa, dan mengapa hingga rasa
penasaran itu meledakkan kepalanya dan ia mati..
Saat itu, saat seluruh isi kepalanya keluar, Tulus menyanyikan sebait akhir
lagu Sepatu untukku, "Cinta memang
banyak bentuknya, mungkin tak semua, bisa bersatu..."
Aku merunduk untuk penghormatan terakhir, mengapa ia mati, mengapa harus ia
menyapa?
Dan saat itu, saat aku juga bertanya, aku menemukan rindu yang tidak pada
tempatnya..
"Hai juga" balasku, akhirnya, kepada sebuah jasad yang mati di
senja sore. ..
..
*Jakarta, 24 Januari 2017, 21.25 -- Stasiun yang sama, dengan senja yang berbeda
Komentar
Posting Komentar