Rebah...
Rebah, dipunggung bulan yang purnama
Samudramu pasang menerkam malam, menelan sepi, meremukkan senyap
Sinar-sinar menjelma nyanyian, apakah itu bintang?
Atau hanya ilusi semata, agar kamu sedikit merasa tenang?
Di persimpangan hati, namamu memudar pelan-pelan
Kamu juga boleh melupakan segala rupa isyarat, biar hampa dan jangan diungkit jadi kenangan
Bukannya ingin melupakan, tetapi....
Ada ragu, diantara ketiadaan
Ada semu, yang sama-sama tidak dapat diungkap lewat sebuah ucapan
Jadi mengapa kita seperti tidak memiliki bahasa untuk dimengerti
Dimengerti bahwa serupa rasa sialan ini seharusnya sama-sama kita tahu
Atau memang sebenarnya kita mahluk Tuhan yang bisu
Hanya karena tak lagi menatap sepasang mata semuanya jadi ambigu
Tolong...
Ajarkan aku untuk tidak lagi membersamainya dengan senyum itu
Atau beritahu aku rahasia untuk melenyapkan kamu bersama samudramu
Termanggu, disisi bulan yang purnama
Samudraku pasang menerkam rindu, menelan sakit, dan melenyapkan hampa
Jejak-jejak kaki mungil milik siapa dipesisir pantai milikku?
.... Beritahu aku jika itu kamu dan kamu kembali
*Ka Ha, 05 Mei 2016 20.28 WIB, -ban. O--O



Komentar
Posting Komentar