Memoar... Cuap-cuap tiga tahun bersama
Assalamualaykum…
Well, siapapun yang nantinya akan
membaca catatan ini, apa kabs? Moga senantiasa dalam lindungan Allah ya,
Aamiin.. Btw sebelum mulai, enaknya pakai ‘Saya’ atau ‘Gue’? Hmmm… berhubung
catatan ini di dedikasikan untuk masa putih abu-abu, jadi perspektif orang
pertama yang akan digunakan adalah; Gue.
Gue menulis catatan ini pada pukul
20.53 WIB hari Sabtu, 26 Maret 2016, H-8 Ujian Nasional, dan catatan ini di
dedikasikan untuk kenangan tiga tahun berada di masa putih abu-abu, sebelum gue
resmi menjadi seorang alumni. Tapi sebentar, gue punya pertanyaan yang bahkan
sudah ada sebelum gue jadi anak SMK. Kenapa masa SMA/SMK dinamakan sebagai masa
putih abu-abu? Perasaan rok gue warnanya biru muda kepudar-pudaran. Iya nggak,
sih? Iya, kan ya. Jadi siapa yang pakai abu-abu? Nggak ada. Nah, jadi menurut
gue seharusnya masa SMA/SMK namanya bukan putih abu-abu, tapi putih biru muda
kepudar-pudaran.
*Skip pembaca -_- nggak penting*
Yah, udah mau lulus. Alhamdulillah
karena gue ada plan kerja, juga kuliah, dan melanjutkan kehidupan. Sayang nggak
sih, entah kenapa di hari-hari terakhir ini gue merasa sekolahan gue menjadi
lebih berarti. Teman-teman gue, suasana sekolah, masjidnya, perpustakaannya,
lele di kolam ikannya. Tiga tahun, jadi siswi akuntansi 1 di Negara Api,
Sekolah Sang Juara, dan semua orang di dunia ini tahu kalau itu adalah SMK N
17.
Iya-iya, yang sekolahnya di ujung
komplek, nyempil, pokoknya di depannya ada warung tante sama warung Opa, di
sebelahnya Opa ada Bakso pakde Pono, gue mau kasih tahu ke kalian kalau
bacilnya pakde Pono itu enak banget. Enaaak banget!
Apa ya.. semenjak masuk SMK, banyak
banget yang berubah, terutama untuk diri gue pribadi. Masa-masa sulit di
sekolah ini buat gue adalah nilai, mungkin karena dulunya masuk Akuntansi
ogah-ogahan dan karena sedikit marah juga karena gue nggak diterima di jurusan
Broadcasting, makanya gue bener-bener jadi apatis sama setiap pelajaran. Jangan
ditiru ya, tapi gue udah insyaf kok, Alhamdullilah.. Kalo lo mau tahu ya, hal yang
paling gue nggak suka adalah ngejar nilai dan itu adalah nilai pajak. Nggak
perlu gue ceritain, nanti nangis lagi.
Gue sangat beruntung karena diterima
di kelas Akuntansi 1 angkatan 2013-2016. Pas masih kelas sepuluh sih nggak
berasa siapa-siapanya, tapi pas naik kelas sebelas entah mengapa tiba-tiba ada
Salsa, Alda, Cisut, Tri, dll yang mungkin kurang gue akrabi di kelas sepuluh.
Pas kelas duabelas, gue sadar kalau gue berada di kelas yang benar-benar
menyenangkan. Ya, seandainya aja gue nggak apatis dan mau perduli dari kelas
sepuluh, hehehe. Btw, gue nggak ‘seapatis’ itu kok, gue tetap punya teman, juga
sahabat.
Hal yang paling melekat? Apa? Yang
pertama yang akan gue sebut adalah ROHIS 17, karena disana awal mula gue
hijrah, kenal apa itu mentoring, ngaji, tahsin, berorganisasi, punya
sahabat-sahabat yang SubhanAllah… Abkar, Tiwi, Yase, Ai, Aida, Yayu, Nurul,
Uvi, Endang, Sensei Eki, Gilang, Ahmad, Erdin, Rizky, Malik, Pai, Akhyar! Dan
kakak-kakaknya yang banyak, dan teman-teman yang tentunya semakin banyak,
adik-adik kelas juga banyak. Selalu berkesan setiap kita buat acara, syuro,
syuro lagi, syuro terus, pulang malam, buka puasa bareng, syuro lagi, buka
puasa lagi, belinya gorengan lagi, Idul Adha lagi, LDKR lagi, Tasqif, Tahsin,
Fiqih, 2H1J. Hal-hal yang nggak akan pernah kembali di masa depan, karena yang
ada di masa depan mungkin hanyalah reunian. Cie kangen, Ana uhibbuka fillah..
Lalu, Wallteen 17. Buat gue,
Wallteen itu adalah mimpi yang jadi nyata. Kita bukan eskul, tapi kita klub.
Kita nggak punya kakak kelas, adik kelas? Boro-boro, wkwkwk… Tapi itu nggak
mengurangi betapa bahagianya gue berada di klub ini. Aip Maman, Adrian, Ais,
Abiadit, Ute, Natasya, Iloen, Abkar lagi, Tiwi lagi, Sikul, Yayu lagi, ada Yase
juga kadang-kadang, Alif Sucia, Bu Nina, Bu Aah.. Inget nggak mading pertama
kita yang judulnya, “Pahlawan Dalam Cerita”? Iya, yang hujan-hujanan itu.
Kenapa gue bilang buat gue Wallteen itu mimpi yang jadi nyata? Karena…
Gue bisa bikin mading sama kalian,
ngisi dinding sekolah. Ngonsep ini itu, sampai akhirnya ikut lomba, kalah,
menang, kalah lagi, tapi yang terakhir kita juara satu ya? Alhamdullilah.. Tapi
gue nggak akan cerita panjang lebar soal Wallteen disini karena panjang banget
dong nanti, wkwk.. Intinya, gue bahagia pernah jadi bagian dari kalian, meskipun
disini kita nggak selalu bahagia, karena gue pernah nangis gara-gara Arif
berantakin konsep gue dan Arif pernah marah gara-gara gue nggak bisa dateng. Oh
iya, Alif juga pernah kentutin gue waktu lagi nginep dirumah Sikul. Hakhakhak!
Tapi ketika lo punya berbagai
organisasi entah itu di dalam ataupun di luar sekolah, yang paling dekat sama
lo selalu dan akan selalu teman-teman kelas. Ya, dan gue ada disana, di kelas
Akuntansi 1. Kelas ini panas, soalnya anak-anaknya suka tiba-tiba berubah jadi
kompor, hakhakhak… Tapi Akuntansi 1 itu ujung tombak, kita dipercaya jadi kelas
terbaik angkatan 2013-2016, bukan hal yang mudah karena berarti kita jadi
harapan guru-guru, juga sekolah, kita harus berusaha sekeras mungkin untuk jadi
yang terbaik. Akuntansi 1 kan sukses mulia…
Mungkin kalau ditanya siapa yang
akan selalu gue kenang, gue akan jawab semuanya. Tapi bisa gue perkecil
areanya. Dan yang gue sebut pertama kali adalah Rizky. Terimakasih ya Allah
pernah mempertemukan hamba dengan mahluk ini, karena mungkin, yang seperti dia
nggak ada lagi di dunia ini. Rizky itu, tua, hiperaktif, orang yang selalu buat
gue tertawa sekaligus kesel setengah mati, (Gue selalu berpikir untuk nggak
bicara selama satu hari penuh, tapi nggak bisa), pernah jadi mitra kerja, nggak
ganteng, kerjaannya nyari kerjaan, hobinya nyari hobi. Satu, kalau gue boleh
dilahirkan ulang, gue mau dia jadi Abang gue. Serius. *Eh, Serius udah bubar,
ya?
Dan yang selanjutnya ada Abkar,
Yase, Tiwi, Sikul. I have nothing to say karena kita udah sering banget
ngomong, kapanpun, dimanapun, tentang apapun.. tapi gue akan pastikan satu hal
dan itu adalah kangen. Kangen pulang bareng, kangen ketawa bareng, curhat
bareng, mentoring bareng, ngebully Tiwi bareng, KARTAYAS(WI) never end, nyari
cowo ganteng bar—Ralat! Itu kerjaan Yase, gue mah nggak pernah ikut-ikutan—tapi
nemenin. Yassika sahabat gue dari kelas 1 SMP, enam tahun ya, Kul? Dan kalau di
total, gue udah memasukan 186.624.000 detik ke rekening persahabatan kita, coba
bisa di duitin. Kul makasih ya, sudah dengan baik jadi sahabat gue, sabar
ngadepin gue, gue juga sabaaar banget ngadepin lo. Terimakasih untuk semua
cerita yang pernah lo dengarkan dan lo bagi, selalu percaya kalau gue bisa,
maapin ya gue cengeng. Gue sayang banget sama lo Sika, semur jengkol mama lo
apalagi!
Ais, MasyaAllah Ais.. gue nggak tahu
kalau udah lulus mau minta film sama siapa, mau ngomongin anime sama siapa, mau
berbagi bekal sama siapa, mau ngomongin tentang Japanese sama siapa, mau minta
movie sama siapa. Gue nggak tahu apakah ketika lulus nanti gue akan menemukan
suara semerdu suara mu, Is.. *Muntah nggak bacanya, muntah nggak?*
Adrian, meskipun nggak jelas gue
selalu tahu bahwa lo itu adalah teman terbaik. Loyal, wangi. Wangi? Hmm,
intinya gue nggak akan pernah menemukan aroma seunik itu selepas gue lulus dan
gue sedih. BOONG, GUE BERSYUKUR, HAKHAKHAK! AKHIRNYA NGGAK NYIUMIN AROMA ADRIAN
LAGI, AKHIRNYAAAA…
Tapi. Satu yang gue akan rindu dan
itu adalah… Suara merdu lo. Oke gue boong lagi.
Erdin Syamsudin, MasyaAllah.. boleh
gue ceritain satu rahasia? Pas kelas sepuluh gue benci banget sama lo, kenapa
sih lo suka banget ngehina gue? Iya gue nggak cakep, tapi gue bisa jadi masa
depan yang menjanjikan. Lo mau tahu apa doa gue dulu pas kelas sepuluh? Pas kelas
sepuluh gue pernah doa biar pas kelas sebelas gue nggak sekelas sama lo, takut
sedih mulu gara-gara di katain, apalagi pas lo bilang gue mirip doraemon, lo
harus tahu kalau doraemon itu suka ngeluarin hal-hal ajaib. Tapi tenang, itu
dulu kok. Menurut gue nama ‘Erdin’ itu unik, orangnya nggak, biasa aja. Apa ya,
gue nulis nama lo tapi gue bingung mau bicara apa? Mmm, intinya, gue bahagia
punya teman yang bisa jadi panutan banyak orang, memotivasi, multitalenta. Gue
ngiri sama lo karena lo bisa apa aja. Bisa main bola, bisa nulis puisi atau
bahkan cerita, bisa nyanyi, pinter, bisa bikin badai dahak, suka kentut. Masih
heran aja kenapa banyak perempuan yang mau dihalalin sama lo, emang mereka
belum pernah ngedenger lo dahak, ya? Hahaha, bercanda, gue juga sering buat lo
kesel.. Erdin, jangan futur, ya?
Ibnu Hakiki alias, Hakikithecry,
makasih ya, udah mau sabar ngajarin gue apapun kalau gue nggak ngerti sama
pelajaran. Biarpun anak-anak bilang kalau lo itu nahan, buat gue lo itu baik,
tapi tetep nahan. Maapin, sering gue ledekin, lo juga kadang-kadang kocak sih,
satu pesan gue, Nu; jangan duduk mulu, mabokbokz. Alda juga da, makasih.. Lo
itu, orang tersering jatuh tanpa sebab yang pernah gue temukan. Apa kata Aris?
Alda keker! Da, Onew itu lebih sexy dari Song Joong Ki, dan Ibnu mirip Hendra
waktu kecil! Dan, Virly, seneng bisa kenal Virly tiga tahun ini tapi hamba
mohon ya Allah, yang kaya Virly udah cukup satu aja. Satuuu aja!
Gue akan dan akan selalu inget, Devira
yang waktu gue remed senbud dia ngebantuin gue nulis. Lo tahu Devira, karena
jasa lo waktu itu, tangan gue nggak putus…. *Alay, nggak? Alay, nggak?* Adinda
yang kadang suka nggak jelas tapi kocak, gue sebel banget kalau dia udah
tereak-tereak. Salsa juga. Salsa mau tahu kenapa Salsa nggak tingi-tinggi? Itu
karena Salsa tereak-tereak mulu, vitamin, zat besi, mineral, sianida yang ada
di tubuh Salsa menguap ke udara kalo lo tereak tahu nggak? Dan Ika, maaf ya ka,
tapi saran gue jan marah-marah mulu napa. Iya gue tahu itu hobi lo, tapi gue
cuma nggak mau lo kena darah tinggi, hahaha.. #peace. Rombongan rumpi cantik;
Ute, Rahma (yang selingkuh sama bang Ben gue), Vita, Uci, Iloen—yang suka
selfie—Tri. Gue juga nggak bakal lupain Yayu sama es mambonya, Rifai—yang kalo
lo mau tahu, Rifai itu baaaaweeeeel banget, pas gue pkl sama dia, dia itu
baaaweeeel banget! Jadi kalo lo berpikir bahwa Rifai itu pendiem… terjun sana
ke jurang.
Tapi lo mau tahu nggak yang lebih
bawel dan selalu riweuh sendiri? Luthfi, hakhakhakhak… Tapi Luthfi baik, mau
dinasehatin, meskipun kadang-kadang suka melehoy nggak tentu arah. Agnes,
jangan pernah ikutin pemikiran yang taklid karena Agnes itu terlalu pintar
untuk menjadi orang yang liberal, gue cuma mau bilang kalau imajinasinya Agnes
adalah sesuatu yang nggak pernah bisa gue tuangkan, gue nggak bisa selepas
Agnes saat menulis.
Akhyar, SubhanAllah.. bang Ben—males
ah, selingkuh. Gue nggak sadar kalau pernah satu SMP sama Akhyar, kenapa ya?
Apa karena dulu Akhyar bukan Akhyar, melainkan Achyar X-Friends? Oke,
bercanda.. *Pas baca ini Akhyar nggak ketawa* Ada satu hal yang gue iri dari
Akhyar yaitu naik gunung, gue nggak akan pernah dikasih izin sama bapa gue buat
naik gunung. *Pas baca ini muka Akhyar datar*. Emh, Akhyar, gue mau bilang
kalau jangan main COC muluuu! *Pas baca ini Akhyar bodoamat* Yaudah, dari gue
segitu aja. Akhyar, nikmat Tuhan manakah
yang kamu dustakan?
Alif Sucia, nothing to say, tapi mau
nanya.. Ka Supri tahu nggak kalo Alif kentutnya bau? Ya Allah, semoga kak Supri
nggak pernah ada di sisi Alif saat Alif kentut, lindungilah ka Supri ya Allah,
ka Supri nggak tahu apa-apa, dia nggak salah! Tapi mendingan di kentutin Alif
dah daripada ngeliat Hendra ngupil.
Tapi
buat gue, Hendra adalah laki-laki termagis yang pernah gue kenal, satu cerita
turun temurun dari seorang Hendra adalah tentang mahluk-mahluk tak kasat mata
di rumahnya. Dan keluhan nomor satu Hendra adalah, setiap dia ada di rumah, dia
selalu gatel-gatel.. *Nb: Kata Rizky rumahnya Hendra itu jauh banget. Jaraknya
10.000.000 tahun cahaya dari bumi, rumah Hendra udah bukan di galaksi Bimasakti
lagi, melainkan galaksi Bimaloyo* terlepas dari semua prestasinya yang suka
main apa itu? Petang, ya? Petang itu artinya udah sore kan, ya? Udah mau
maghrib? Jadi selama ini prestasi Hendra suka main petang alias suka main sampe
Maghrib? Hahhh… pantesan lo suka gatel-gatel. Hendra, lo mau tahu sesuatu
nggak? Katanya Tyas mau jadi istri lo, dia seeeriiiing banget nyariin lo, itu
aja, met berjuang!
Woeh, kalau kalian sering lihat
Sinchan di stasiun tv yang tidak akan gue sebutkan namanya tapi itu adalah
RCTI atau di manapun, itu biasa. Pernah
ketemu adiknya Sinchan yang perempuan itu? Pernah? Gue, setiap hari ketemu
adiknya Sinchan. Alhamdullilah, dia berhijab, caplaa—maaf maksudnya
cantik—alisnya, beuh… biasa aja, dan pintar. Gue lupa namanya tapi kayaknya itu
Dea Rayi Anggita, iya.. iya.. yang kadang-kadang pengen banget gue tarik
kupingnya kalau dia lagi iseng. Btw, orang jepang kan putih-putih, ya? Lo tahu
nggak Dea warnanya apa? Ijo! Hakhakhakahak.. kolor Hulk kali ah. Maksud gue,
Dea warnanya cokelat. Manis. Gue yang manis, Dea, mah…. (isi sendiri)
Jari Yanti Peni. Please, jangan
tambahkan huruf apapun di belakang namanya. Karena berarti itu lo ganti
namanya. *Jelas, nggak? Nggak, ya? Yaudah* Satu hal yang akan selalu inget dari
Jari adalah bakat tereak-tereak yang nggak sekedar tereak-tereak, bakat goyang
keramas, nyanyi dangdutz, dan.. kita sama ya Jar, sama-sama nggak bisa ngomong
‘R’. Coba ngomong ‘R’, maka bunyinya akan menjadi,
“Rrlllllllllllllzzxxcvvvyyoooppppllkkkjjj”
And, this is the last but not least.
Siapa yang paling giat belajarnya? Siapa yang buat Akuntansi 1 bangga dengan
prestasi akademiknya? Siapa yang hobinya manggil-manggil guru padahal gue yakin
banget untuk waktu-waktu tertentu guru itu lagi menghindar untuk ngajar dan
tiba-tiba mahluk tinggi ini muncul sambil bilang, “Bu/Pak, ada jam di Akuntansi
1”. Aulia Putri Tantular, gue pribadi, dari hati gue yang paling dalam sampe saking
dalamnya kalau lo mau tahu ini udah di ujung-ujung empedu, gue salut banget Ul,
sama lo. Gue pernah berharap kalau gue bisa secepat itu dalam memahami sesuatu,
punya ketahanan fisik kayak Aul, semangat dan ketekunan yang selalu terjaga.
Terimakasih karena lo ngajarin gue untuk jangan ngeluh, selalu tersenyum, dan
hadapin apa yang seharusnya kita hadapin, jangan pernah lari dari kenyataan.
Mungkin lo nggak pernah sadar, tapi gue banyak belajar dari lo karena… buat
gue, lo adalah orang paling sering tersenyum di kelas. Masih mengharap cinta
Ahjussi?
Iya Ahjussi, gue nggak mau nyebut
nama, karena itu privasi lo. Tapi gue nggak akan pernah bilang-bilang sama
Rifai, kok. Janji!
Mungkin yang terakhir ini bukan anak
kelas kita tapi… Kalian mungkin harus sedikit banyak terimakasih sama dia karena
apa? Karena meskipun dia nggak jelas, suka bertingkah aneh, itu nggak jarang
buat kita ketawa, dia satu-satunya lelaki yang minta di halalin sama Erdin.
Alif Khatami, gue mau bilang kalau susu lo—Susu Real Good sama Milkuat
maksudnya—enak! Gila, apalagi kalau gratis. Hanya berharap untuk kehidupan lo
yang akan semakin baik dan lebih baik lagi kedepannya, yang harus kita catat
Lif, kehidupan baik itu tidak diukur dengan seberapa banyaknya pembendaharaan
yang kita punya. Gue nggak akan kasih tahu semua, karena semua orang bisa tanya
sama dirinya sendiri.
Udah gue tulis semua, spesifiknya
bukan kenangan, sih. Tapi dengan menulis, setidaknya gue bisa menuangkan apa
yang ingin gue tuang. Siapapun kalian yang nantinya akan membaca ini, gue
berharap kalian mau mendoakan gue. Gue, Rolyta Nur Utami, doakan gue agar gue
bisa jadi penulis yang barokah dan membawa banyak manfaat lewat tulisan-tulisan
gue, doakan gue dan semua anak di Indonesia agar lulus melewati UN dan mendapat
nilai terbaik, doakan gue jadi Hafidzah, doakan gue bisa berkerja di tempat
yang barokah, bisa buka usaha restoran, dan doakan gue agar nantinya ada salah
satu karya tulis gue yang di angkat di layar kaca, entah itu bioskop, atau
televise, doakan gue agar gue bisa menginjakkan kaki ini di tanah suci, Makkah
al Mukaromah, juga Madinah, bersama kedua orang tua gue, Aamiin…
Kalau kalian tanya kenapa gue minta
doa sama kalian, gue akan jawab; Karena kita nggak pernah tahu doa siapa yang
di kabulkan, karena kita nggak pernah tahu amalan apa yang pernah seseorang
lakukan sehingga Allah mengabulkan doanya. Sama seperti ketika kita makan,
Rosulullah menyuruh kita untuk makan hingga jika ada nasi-nasi yang tersisa di sela-sela
jari kita, kita harus bersihkan, karena kita tidak pernah tahu dimana letak
keberkahan dari makanan itu.
Gue rasa, ini endingnya. Haft, maaf
ya, kalau gue ada salah, dan gue tahu pastinya ada dan itu nggak dikit,
*Termasuk di tulisan ini, hahaha.. Terimakasih untuk telah menjadi kenangan
terbaik, teman-teman terbaik, gue akan selalu ingat kalian. Kita harus sukses
bareng-bareng, jangan pernah nyerah dan jangan pernah lelah untuk menggapai
semua mimpi, jadi orang baik, dan beli buku gue. Buku gue nggak ada di Wattpad.
Hakhakhak…
Talk Less, Do More. Jadilah orang
berahlak, karena orang berahlak itu pastilah orang yang cerdas. Sukses, mulia…
Ganbatte! Shitake!
*Kopi
Hitam?—Rolyta Nur Utami aja deh, kan ini bukan karya Sastra, hahaha… 26 Maret
2016, 23.14 WIB.



huhuhuuu co cwiiitttt :"
BalasHapusSampe tumpeh-tumpeh :'(
BalasHapusHahahah... Bener, kan? :p
BalasHapusIya tuuutt.. Makasiih banget lu udah sabar banget ngadepin guee :* jadi terharuuuu :') jangan lupain gue ya kalo udah jadi penulis terkenal (AAMIIN), gue akan berusaha jadi bestfriend lu forever dan selalu ada buat dukung lu tuuut.... eaaa hahaha
BalasHapusAaamiin.. Lu juga kalo udah jadi pemusik atau seniman beneran jangan pernah lupain gue ya kul... Tetep jalan bareng dan curhat ke gue kalo ada apa-apa, satu pesan gue yang lupa gue tulias disana; MANDILAH JIKA HARI LIBUR
BalasHapusIya lytuuuuttut.. Aaaaamiiiiinn... wkwkwk mandi sekali di hari libur itu udah sepertiiiii xD
BalasHapusHalahhhh
HapusNgebaca lg, jd kangen.
BalasHapusSelamat merasa rindu, dear..
Hapus