Apa itu...
Sebenarnya, apa itu mimpi, apa itu
cita-cita, dan, apa itu harapan? Sebagian besar akan menjawab; ketiganya adalah
sesuatu yang di miliki oleh setiap orang. Tetapi, terkadang semuanya menjadi
kabur dan tidak berarti saat merasa sendiri.
Ya. Apakah kau pernah merasakan
sendiri?
Maksudku, sendiri.. Dimana diantara
segala yang kau perjuangkan dalam hidup, kau sesungguhnya sendirian. Bukan, kau
merasa sendirian. Diantara hidupmu yang biasanya selalu berjalan luar biasa;
dimana kau merasa kau memiliki segalanya, dimana kebahagian adalah sahabat yang
lekat, tiba-tiba saja hampa dan kosong. Disana hanya tersisa kau dan
mimpi-mimpi usangmu
Sebenarnya, apa itu perjuangan?
Untuk semua mimpi-mimpi, terkadang,
aku merasa ingin menyerah. Menyerah. Dan menyerah. Tidak mudah untuk
mengatakannya, tapi, jika dirasa… perih. Aku tahu, pada hakikatnya kita tidak
akan pernah sendiri, sebab Allah akan selalu menemani.
Tapi aku juga sadar diri bahwa jiwa
yang kumiliki bukan jiwa sempurna; aku manusiawi. Ada saatnya semangat terbakar
walau hanya dengan sulut yang kecil, diantara itu aku bagai angin yang tidak
siapapun bisa menghentikan ku kecuali aku merasa lelah dan butuh istirahat.
Namun, ada saatnya aku merasa aku bukan apa-apa, kehilangan segala pijakan dan
tempat untuk merasa percaya.
Kau tahu, rasanya tersenyum untuk
kekosongan yang menyergapmu?
Dan saat itu kau hanya akan berpikir
bahwa lebih baik jika masa lalu bisa membawamu kembali padanya; melewati lagi
hari-hari bahagia, bersama segenap kawan dan lawan tempatmu berbagi cerita.
Karena di masa lalumu kau pernah berjuang bersama-sama, dengan mimpi yang sama,
dan tujuan yang sama.
Aku, aku ingin katakan kalau aku
kehilangan apa yang pernah aku rasa dulu; sebentuk perasaan yang menerbitkan
rasa rindu, tapi ketika mengingatnya, ada rasa sungkan untuk kembali. Ada
kering yang minta untuk disirami; kesendirian ini kepada siapa harus kubagi.
Sekali lagi, aku hanya manusia; aku
tertawa, aku menangis, aku bahagia, aku berduka. Diantaranya, selalu ada rindu
yang terkadang aku tidak tahu untuk siapa dan apa?
Aku ingin menyerah, tetapi aku benci
“menyerah”. Baiklah, aku ingin katakan, aku lelah. Boleh ku jeda sebentar? Aku
ingin berhenti, tidak selamanya, nanti aku akan berjalan lagi. Rasa ini biar
habis dulu dipangkas waktu. Sampai kau tahu bahwa aku membutuhkan mu; sebentuk
semangat ku yang dulu.
Dimana tidak ada yang bisa
menghentikan kita saat tangan-tangan kita saling bersatu. Untukmu, teman,
sampai kapanpun aku akan menunggu.
.mp4_snapshot_03.55_%5B2015.01.29_21.31.24%5D_%C2%B8%C2%B1%C2%B1%C2%BE.jpg)


Komentar
Posting Komentar