Istighfar
Ernesto terpelanting jauh. Tubuhnya
bergesekan dengan kasarnya aspal, kulit
putih langsatnya berdarah dimana-mana. Belum lagi saat itu, mobil dari
arah berlawanan melaju dengan kecangnya. Silau. Mobil itu seakan terlihat
terhuyun-huyun.
Ernesto masih tersadar, tapi tidak
mampu berdiri. Ia hanya mampu berteriak, memasrahkan dirinya yang seakan siap
dilahap oleh mobil kedua-setelah sebelumnya- ditabrak oleh mobil pertama.
Darah segar segera membanjir. Mengalir. Tidak
perlu hitungan menit, sekerumunan warga mengelilingi raga bersimbah darah
Ernesto. Dalam hati ia mengutuk dua mobil itu.
Gelap.
***
"Sialaaaan!!! Mobil sialaaan!!!"
Teriak seorang pemuda dari balik kamarnya. Wanita setengah baya yang sejak dua
minggu lalu setia menemaninya hanya bisa terduduk, pasrah. Kecelakaan itu tidak
bisa ia hindari, itu sudah jalan takdir anaknya. Mungkin, pemuda itu hanya perlu waktu untuk menerima semuanya. Belajar
ikhlas.
"Maaa!!! Tuntut pengemudi tidak tahu diri
itu. Ganti semuanya!!" Wanita yang dipanggil Mama tadi seolah tidak tahan
dengan teriakan-teriakan yang semakin lama semakin menjadi. Dengan tertatih ia
membuka pintu kamar anaknya. Tuhan, mengapa Kau membuatnya menjadi sangat menyedihkan? Batinnya.
"Hssst.. Istigfar to, kamu
harus ikhlas. Semua pasti ada hikmahnya" Wanita itu coba menenangkan
anaknya, menyentuh halus pipinya, pelipisnya yang robek. "Mungkin semua
ini cobaan buat kamu, To, tobat, To. Jangan pernah main-main kaya kemarin
lagi" Lanjutnya.
Tapi anaknya, bukan anak yang mudah
untuk dilunakan. Sedetik kemudian pemuda itu histeris. Teriak-teriak lagi.
"Istighfar? Sabar? Omong kosong! Ernesto
cuma minta semuanya seperti semula, bukan Istigfar! Bukan sabar!"
Bentaknya. Wanita itu justru mulai mengucap Istigfar berkali-kali sambil
memegang dadanya yang sesak.
"Dua mobil terkutuk itu sudah
merenggut semuanya, Ma! Karier, cinta, kesempurnaan, semuanya!!!"
"Ernesto!"
"Mama
nggak pernah ngerti! Hidup ini nggak adil, saat Ernesto ada diatas, Ernesto
tiba-tiba jatuh!"
"Istigfar, To. Semuanya ndak ada yang
abadi"
Tetapi
Ernesto, pemuda itu, ia tetap tidak mau mengerti dan perduli. Ernesto terus merapalkan
kata caci maki kejam, mengutuk kedua mobil beserta supir terkutuk malam itu.
Mamanya semakin tidak tahan, cepat-cepat memanggil dokter keluarganya. Ernesto
direjang, sedetik kemudian jarum lentik dokter membius melalui nadinya.
Gelap.
Ernesto kehilangan karier, cinta. dan
sempurna.
***
"God job, Ernesto!" Ucap
seorang lelaki bertubuh tambun dan bewokan sambil menjabat tangan Ernesto. Ernesto
hanya tersenyum. Malam ini adalah malam kemenangannya. Segepok uang ratusan
ribu yang tidak sedikit itu sudah menjadi miliknya. Tak ayal, wanita-wanita
berpenampilan terbuka mulai mendekati dirinya, bergelendotan manja, menggoda.
Dengan lagat sombong Ernesto tak memperdulikannya.
"Gila, masih muda bakat judimu keren
kali!" Puji salah satu peserta judi yang kehilangan berlembar-lembar uang
ratusan ribunya. Orang itu menggelengkan kepalanya menatap Ernesto. Nggak
nyangka, pikirnya.
Malam itu, semua penghuni bar
menatap Ernesto. Pemuda yang tadinya dipandang ingusan itu menang telak, bandar
judi memandangnya penuh benci.
Ernesto menyeringai, ia bukan pemuda bodoh,
judi itu soal gampang. Apalagi jika sang bandar dengan licik akan mengirim
centeng-centengnya dan menghajar Ernesto saat pulang, lantas mengambil lagi
uang judi tadi. Ernesto tahu bagaimana caranya.
"Heh
tua! Kirim saja hasil kemenanganku lewat rekening, lebih praktis, kan?"
"Bocah tengik!" Umpat bandar tadi.
Rencana busuknya, otomatis, gagal.
Ernesto kembali dalam riuhnya bar.
Memesan bergelas-gelas bir mahal, merangkul lebih dari dua perempuan-perempuan
berbaju kurang bahan.
Ernesto, wajahnya kalem, keturunan
Jepang asli. Ganteng, putih, mapan, aktor terkenal. Tapi siapa sangka, pemuda
ingusan itu telah lama terlibat dalam dunia malam yang kelam? Judi, minuman
keras, perempuan malam. Bagian dari hidup Ernesto dua tahun belakangan.
"Ganteng,
malam ini mau chek in dihotel mana?" Goda salah satu perempuannya. Ernesto
mengerutkan dahinya, "Chek in?" Kelima perempuan itu menangguk penuh
harap.
Sedetik kemudian Ernesto hanya
tertawa renyah, menyeringai puas. Perempuan-perempuan di rangkulannya sudah
pede sekali akan disewa malam ini.
"Chek in? Heh, sesuram-suramnya gue, gue
itu gapernah mau maenin kaum kalian. Paling cuma sebatas rangkul doang"
"Ah
kampret!" Ucap perempuan dirangkulannya tiba-tiba galak. Ernesto tidak
perduli.
"Gila aja gue maenin kaum lu. Gue punya
ibu, punya calon istri, dan calon anak. Takut karma!" Ernesto menyeringai.
Maka,
dalam hitungan detik, perempuan-perempuan tadi meninggalkan Ernesto jengkel.
"Dasar artis medit!" Umpat salah satu dari mereka.
Malam semakin larut, tetapi suasana
bar semakin ramai. Lampu warna-warni itu terlihat berputar semakin cepat, orang-orang
di dalamnya semakin tidak sadar sedang berbuat apa. Ernesto risih, tapi mabuk
berat. Kepalanya semakin terasa sakit saat ia mencoba untuk berdiri.
"Tambah lagi mas, bir-nya?" Tawar
seorang bartender. Ernesto menatapnya sekilas,
"Tidak, tapi kalau minuman
penghilang efek bir ada nggak?" Tanya Ernesto. Bartender itu menggeleng.
Ernesto menyandarkan kepalanya lagi di sofa
bar. Keadaan makin ramai. Tapi perlahan matanya terpejam, perlahan sepi,
senyap.
Ernesto dipeluk gelap.
***
Berputar. Diterpa cahaya ratusan kandela.
Terlempar jauh.
Dini hari begini masih banyak orang yang
berkerumun? Ada
apa sih? Tanya Ernesto pada dirinya sendiri saat melintas ditepi jalan. Pemuda
berwajah kalem itu penasaran. Mendekat. Belum kelihatan juga. Sedikit masuk
kerumunan. Tidak ada yang perduli. Menerobos barisan paling depan.
"Ya
ampun, masih muda udah ditabrak" Prihatin Ernesto ketika melihat jasad
pemuda bersimbah darah. Didepannya ada dua mobil yang diamankan polisi. Pasti
itu mobil yang nabrak, pikirnya.
Ernesto berjalan lagi. Malam ini rasanya lelah
sekali.
Tetapi sejurus kemudian ia berhenti.
"HAH?!" Ernesto kembali lagi
dikerumunan warga, melihat jasad pemuda malang
tadi, balik lagi, melihat lagi. Dan kemudian pingsan, tapi tidak bisa, Ernesto
tidak bisa pingsan.
"Tuhan… ini mimpi, kan? Kalo bukan, aku mau pingsan aja, deh..
1.. 2.. 3.." Percuma,
Ernesto tetap sadarkan diri. "Aduh ini ada apa sih? Siapa yang ultah?
Tuhan, kenapa ini?" Cemas Ernesto.
Tidak
lama setelahnya, sirine ambulance berbunyi dari belakang. Ambulance yang
ngebut. Ernesto terpaku, kakinya membeku.
Dzigh..
Ambulance itu menembus Ernesto yang
teriak-teriak nggak karuan mirip sinetron.
"Huanjerrr...
Sejak kapan gue jadi Invisible Man?" Gumamnya. "HAH?! DITEMBUS?!
Berarti yang itu..." Ernesto melirik ke arah tandu, pemuda bersimbah darah
itu.
"Gue mati?"
Berpilin.
Diterpa cahaya ratusan kandela. Ernesto terpental. Jauh.
"Maa!!! Mama!!! Mobil itu
menghancurkan semuanya! Supir-supir terkutuk itu, dimana merekaa!!!"
Ernesto tersadar, memegang
kepalanya. Pusing, itu yang dirasakannya. Suara berisik siapa tadi? Siapa yang
terkutuk? Tanya-nya lagi.
Ernesto menajamkan penglihatannya, melihat
sekeliling. Serba putih. Wangi khas orang sakit. Rumah sakit, sadarnya.
"Terkutukkk!!!!"
Ernesto memegang erat telinganya
akibat teriakan barusan. Ia mendongah. Sosok pemuda dengan wajah putih yang
penuh luka, pelipisnya robek. Terus berteriak-teriak.
"Lo kenapa sih? Berisik tau!
Katak-kutuk-katak-kutuk! Lu kira lu siapa mau maen ngutuk-ngutuk? Sinting
sih,"
"Sopir itu! Dua mobil itu!"
"Yaudah kutuk aja merekanya, ngapain lu
tereak-tereak pas dikuping gue? Pengang!!!"
"Mama
nggak ngerti"
Ernesto berhenti ngedumel. Mama? Dalam senyap
yang tercipta, Ernesto medengar isak tangis seorang wanita. Dengan bergetar ia
berdiri.
"Mama?" Gumam Ernesto
hampir berbisik. Darahnya berdesir, mendidih malah. Kemudian matanya terbelalak
saat ia melihat sosok pemuda yang pelipisnya robek itu.
Dirinya sendiri.
Ernesto limbung. "Kalo gue udah mati. Kenapa.. Kenapa gue
masih seberisik itu? Tuhan.. Kenapa? Ma.. Mama" Ernesto coba menyentuh,
tapi tidak tersentuh. Keadaan semakin sulit untuk dimengerti.
"Semuanya sudah hilang ma, bahkan Chici.
Dia ninggalin Ernesto!" Ungkap pemuda yang tak lain adalah Ernesto
nyata.
Chici?
Ernesto makin tidak mengerti. Tubuhnya mulai limbung lagi.
Tuhan.. Semua ini, betapa sulit
untuk dimengerti.
***
Berputar.
Diterpa cahaya ratusan kandela. Tersungkur di ruang penuh cahaya warna-warni,
cahaya berpendar. Tidak sama sekali bersahabat dengan pandangan.
Dua
lelaki berbadan kekar itu menghampiri bosnya. Dua menit lalu mereka dihubungi,
disuruh menghampiri si bos. Maka menghadaplah dua lelaki itu.
"Ada
apa bos?" Tanya salah satunya. Tidak ada jawaban, tidak ada suara. Si bos
hanya menyerahkan dua kunci mobil, masing-masing satu, sedetik kemudian
menunjuk kearah seseorang.
Dua lelaki bertubuh kekar itu mengangguk,
mengerti. Sekejap melirik seorang yang ditunjuk bosnya tadi. Semua beres.
Malam itu, Ernesto mabuk berat.
Dalam keadaan mabuk itu ia lupa membawa mobil. Keluar dari bar. Jalannya
sempoyongan, entah mau kemana. Yang ada di otaknya hanya segepok uang. Uang,
dan uang. Ernesto berjalan limbung. Tiba dipertigaan jalan, sebuah mercy tua
melaju dengan cepat. Ernesto mabuk. Salah siapa? Ia terserempet, jatuh
tersungkur. Tetapi beberapa menit kemudian dari arah berlawanan, sebuah sedan
tua melaju tanpa arah, terhuyun-huyun. Ernesto mencoba bangkit melihatnya, tapi
tidak ada tenaga sama sekali.
Pasrah.
Dua kakinya terlindas.
Ernesto memang pemuda cerdas. Dia
tidak masuk jebakan centeng-centeng yang akan merampok paksa hasil judinya.
Tapi bandar judi itu tetap lebih licik. Ia memanfaatkan kondisi mabuk berat
Ernesto. Uang ratusan jutanya tidak kembali, tapi dendamnya, terbalaskan.
"Kurang ajar! AAAA.." Teriak Ernesto
frustasi. Ia tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi, semuanya bagaikan
film, rentetan kejadian dengan mode flashback.
Dua lelaki berbadan kekar itu dengan lihai
kabur tanpa jejak. Sedan
tua itu, mobil rongsok si bos. Mercy tua itu, milik Ernesto. Kuncinya? Itu
perkara mudah bagi bandar judi licik itu.
***
Berputar. Diterpa cahaya ratusan kandela.
Tersungkur jauh ke masa lalu.
Mata Ernesto perlahan terbuka.
Pagi
itu, disebuah koridor sekolah. Ernesto berjalan sendiri menuju kelasnya, pagi
ini sekolah masih sepi. Ernesto memang murid yang rajin datang pagi. Tidak
sampai limabelas menit Ernesto menunggu, suasana sekolah itu ramai layaknya
sebuah sekolah. Ernesto yang
semula diam mulai beraksi. Dia bukan cowok cool, bukan cowok populer,
bukan, bukan. Ernesto cuma bagian dari sekelompok anak-anak gokil disekolahnya.
Meski begitu Ernesto dikenal, disegani, dicap anak paling asik disekolah.
Itu karena Ernesto
adalah pribadi yang periang, sering membuat orang-orang tertawa entah karena
perilakunya atau kata-katanya yang asal ceplos. Teman Ernesto dimana-mana.
Remaja perempuan tidak sedikit yang
terpincut. Siapa yang tidak melt melihat cowok tampan darah Jepang yang
asik, lucu, dan gak so cool. Siapa? Tidak ada, deh.
Ernesto terpaku. Ia mulai memandang ke seluruh
penjuru sekolah, sekolahnya dulu. Dengan masih tidak percaya, Ernesto
menghampiri dirinya sendiri yang sedang dikerumuni banyak teman lainnya.
Ernesto punya banyak teman.
"To, kalo ada pencarian
bakat di tivi-tivi lu ikut aja To. Lu tuh, gokil!"
"Setuju, To! Tapi, kalau udah beneran
terkenal jangan sombong"
Ernesto hanya tersenyum tipis. "Kalo
gue jadi model, pantes nggak yah?" Khayalnya.
Dua temannya tadi mulai ber-huuu disusul yang lainnya.
Tapi Ernesto tidak main-main ternyata. Dua
tahun kemudian ia merintis kariernya menjadi model. Semakin sukses, kemudian
menjadi aktor. Tapi, Ernesto berubah. Bukan Ernesto yang disegani teman-teman
sekolahnya dulu. Ernesto arogan. Bilangnya masa lalu biarlah berlalu. Padahal
masa lalunya, tidak buruk, membahagiakan malah.
"To.. Ernesto! Gila man..
Gue gak nyangka omongan lu dikelas dua tahun lalu itu serius. Liat, lu keren
banget sekarang!"
"Anjirrr.. Aktor lu, To sekarang"
Ernesto
hanya menyeringai. Seolah-olah tidak kenal, ia berjalan meninggalkan sobat
lamanya dimasa sekolah. Yang ditinggalkan merasa tidak percaya. Itu beneran
Ernesto? Pikirnya. Setahu dia, Ernesto tidak begitu.
Sementara remaja putri dibelakang, samping, kanan
dan kiri terus meneriakan namanya, "Ernestooo!!!"
Di detik teriakan itu bergema kedua teman lama
Ernesto sadar. Ernesto bukan Ernesto yang dulu. Mereka melangkah gontai.
Barangkali benar, popularitas yang tidak dibersamai dengan kerendahan hati akan
membuat mati hati yang dulu mereka segani. Sayang sekali…
Ernesto mencengkram erat kepalanya.
Menjambak-jambak rambutnya sendiri. Terisak. Ditengah kerumunan remaja putri
yang histeris meneriakan namanya, ternyata Ernesto tidak sepenuhnya menjadi
Ernesto. Dia berubah.
Ernesto bangkit, mengejar dua sobat lamanya
dimasa sekolah dulu. Dua pemuda itu menyesali pertemuan mereka dengan Ernesto.
"Heh, gue kangen Ernesto yang dulu.
Ernesto yang humoris, yang rese, yang gokil. Bukan dia"
"Lu
pikir gue gak kangen? Tapi, gue rasa kita udah kehilangan Ernesto. Sifatnya,
cara dia cengengesan. Udahlah, mungkin itu jalan hidupnya.."
Kedua pemuda tadi meneruskan
langkahnya. Ernesto hanya bisa terdiam sambil ikut melangkah dibelakang
keduanya. Berubah? Ya, sejak itu dirinya berubah. Ernesto coba menghadang
langkah temannya, tapi ditembus. Ia lupa kalau ia sekarang Invisible Man yang
sedang menjalani beragam tour masa lalu, entah apa maksudnya.
"Sinatra,
Sandy. Tolong
dengerin gue, gue gatau sekarang gue itu manusia atau bentuk arwah. Tapi.. Tapi
gue nggak ngerti kenapa gue… gue sebenernya suram banget!!!" Ernesto coba berteriak,
tapi tidak. Kedua temannya terus berjalan, tidak mendengar, sampai hilang
ditikungan depan.
Tuhaaan...
Sampai kapan semuanya? Rintih batin Ernesto.
***
Untuk kesekian kalinya. Diterpa cahaya ratusan
kandela. Tubuh Ernesto terhempas di keramik yang dingin.
Mata Ernesto terbuka.
Matanya menyapu ke sekeliling ruangan. Ah,
ini kamarku, pikirnya. Ernesto bangkit, dilihatnya mama tertidur duduk di
sisi kasur, sementara dirinya terlelap pulas. Sembab dimatanya sangat kentara.
Dua minggu terakhir Ernesto sering teriak-teriak, marah-marah, mengutuk
kejadian malam itu, dan menangis.
Ernesto mendekat kearah ranjang. "Habis
ini mau dibawa kemana lagi? Gue capek banget" keluhnya sembari berbaring
disamping dirinya sendiri.
Ernesto menatap dirinya sendiri.
Wajah itu, penuh luka, pelipisnya dijahit lantaran robek. Tiba-tiba seluruh
ingatannya menajam, ini tempat kesekiankalinya saat Ernesto terhempas. Dia
mendesah.
"Sebenernya gue masih hidup atau nggak
sih?" Tanya-nya sendiri. Ernesto memejamkan matanya, semuanya teringat.
Bandar judi, segepok uang, preman suruhan, mobil sialan, dirinya,
teriakan-teriakannya, masa sekolahnya, dua sahabatnya, mama, Chici.
Chici? Mata Ernesto terbuka. Mendesah lagi,
"Gue putus sama Chici?" Kali ini dia bertanya sambil menatap wajah
penuh luka disampingnya. Tapi senyap, tak ada jawaban.
Ernesto mendesah, lagi. "To,
kenapa sih gue.. Eh, maksud gue, kita bisa sesuram ini, ha? Gue sendiri gak
percaya, To" Ungkap Ernesto pada dirinya sendiri. "Lu merasa capek
gak sih, To? Gue capek banget... Kalo dikasih kesempatan jadi raga seutuhnya
gue pengen berubah. Ngikutin kata-kata Mama untuk bilang apa itu...?"
Terhenti. Sejenak Ernesto memandang wajah lelah Mamanya.
"Istigfar.." Lirihnya berbisik.
"Bahkan gue lupa, To, gimana caranya ngucap istigfar" Ernesto
menghela nafasnya panjang. Kini ia mulai merasa lelah, matanya terasa berat,
pusing sekali rasanya.
"To.. Gue ngantuk banget, To.
Nanti pas bangun lu jangan tereak-tereak nggak karuan ya? Gue capek, mau tidur
dulu" Mata Ernesto perlahan terpejam, nafasnya teratur. Pulas disamping
dirinya sendiri.
Tapi sekejap kemudian cahaya ratusan kandela
menerpa ruang kamar Ernesto. Berputar-putar lagi, melayang-layang, menyatu.
Kembali utuh.
***
Wanita paruh baya itu sibuk dengan segala pekerjaannya
didapur. Pagi-pagi sekali ia telah bangun, beres-beres rumah, mengurus
anak-anaknya, bahkan anak sulungnya sekarang.
"Maaa.."
Wanita itu menoleh ketika suara yang ia begitu
cinta memanggilnya. Segera ia mematikan kompor. Menanggalkan celemeknya. Lantas
berjalan menuju sumber suara.
"Maaaa.."
"Iya,
To. Bentar"
Wanita yang dipanggil Mama tadi membuka pintu
kamar anaknya. Oh, Ernesto sudah bangun. Wanita itu tersenyum,
menghampiri anaknya.
"Sarapan,
To?" Tanya-nya lembut. Ernesto menggeleng pelan, tersenyum. Mengamit
tangan mamanya. Mamanya menatap Ernesto penuh tanda tanya.
"Maa.. Ajarin Ernesto ngucap
Istigfar"
"Ernesto.."
Mata wanita itu sekejap berbinar, ia tak percaya, kalau sepagi ini,
pendengarannya akan menangkap sepotong kalimat yang bahkan ia tidak pernah
pikir akan terucap lewat bibir anaknya.
"Ajarin, ma" Ernesto mengerat jari
sang Mama. Ia tidak tahu, semalam tadi rasa nya begitu panjang. Panjang sekali.
Tidak berisi mimpi. Dalam gelap tidurnya, Ernesto hanya di perlihatkan gelap,
bersama dirinya sendiri yang berusaha mengingat bagaimana caranya melapalkan
Istigfar.
Akhirnya, pagi itu, Ernesto
mengerti, barangkali Tuhan ingin ia kembali pada-Nya. Pagi itu, dengan segenap
rasa bersalah, ia kembali mampu mengucap kata…
Astagfirrulahalazim.
Jakarta, 12 Mei 2013 *Sudah Istigfar-kah kamu hari ini? ^^


Komentar
Posting Komentar