Sajak senyum
Demi
jutaan larik mentari pagi yang menyandingi cicit burung di dahan-dahan pohon
yang kokoh
Juga
untuk semua senyum yang melatarbelakangi hari demi hari
Teruntuk
senyum ku sendiri
Semua
menjadi sederhara, sesederhana ketika aku menyunggigkanmu tanpa alasan
Semua menjadi ceria, ketika dalam kata,
terselip engkau sebagai reaksi dalam canda tawa
Semua
mendung di ufuk hati, gelimang bening di sudut mata tidak akan pernah terbaca,
kala aku masih terlalu mampu untuk bersama mu
Bahkan
ketika berada di titik lemah sekalipun
Ketika
dengan parau aku bertanya pada seorang kawan, "Pernahkah kau merasa
sendiri?"
Dan dia menjawab, "Bagaimana mungkin aku sendiri
ketika masih ada Allah, Raqib, Atid, serta keluarga, sobat?"
Aku tersenyum mendengar jawabannya
Benar. Sungguh benar.
Demi jutaan nafas yang terhela saat memendam sesak
Teruntuk sebuah senyum yang terkadang aku zhalimi
Bagaimanakah? Bibir ku terkadang kelu untuk tersungging,
ketika rasa lelah dan sedih menikam begitu hebatnya
Senyuman di balik pedih itu dusta, dusta itu dosa, kan?
Bagaimanalah? Ketika aku bersua dengan bibir kopi hitam pekat,
segala beban hancur berantakan melebur di manisnya
Demi luruhnya dedaunan kemuning di tanah merah
Teruntuk senyum entah milik siapa
Kali ini aku berusaha menginjak-injak
Meninggalkan diam-diam dengan keputusan yang sepenuhnya menyakitkan
Aku melangkah mundur pelan-pelan
Maju selangkah bila ada harapan nyata
Mimpi-mimpi kusut itu hanya bualan belaka
Cepat atau lambat hilang ditikung kenyataan
Aku harus terjaga dari banyak pengharapan
Demi langit-langit bumi yang menampakan purnama
Teruntuk senyum-senyum, senyum-senyum, dan segenap senyum-senyum
Biarlah.. Jangan pernah jenuh bersua di bibir kering ku
Jangan pernah hilang karena semeraut hati
Jangan pernah meski kini karang tersapu badainya ombak
Janganpernah!


Komentar
Posting Komentar