Ketika cinta memilih sinar senja
No copas
No edit
Happy reading the Readers :)
yang mungkin menghampiri..
hidupmu hidupku..
No edit
Happy reading the Readers :)
Kau masih berdiri di
tepi danau itu. Dengan senyum anggun
yang terlukis indah di air wajahmu. Anggun, ketika angin menyapu helaian-helaian
hitam rambutmu. Aku masih kagum. Kau adalah seorang yang menggagumkan.
Lalu aku akan tetap berdiri terdiam disini, sambil
menemanimu manyambut senja dari kejauhan. Aku tau, kau akan mengatakan satu hal yang sama. Sama
seperti waktu-waktu sebelumnya. Jadi kuputuskan untuk tetap disini, menemanimu tanpa kau sadar.
Luka, kau tahu defenisi apa yang kau ukir
disini, dilubuk hatiku. Saat kenyataan menghadapkan aku untuk jatuh cinta
kepada dirimu. Sebelumnya, belum pernah aku
diperlakukan seperti ini. Semenjak aku dilahirkan aku selalu berada dalam
naungan kasih sayang, bukan seperti engkau yang membuat ku berfikir sekarang.
Ingin rasa aku berhambur dalam pelukanmu,
merengkuh rapuh dan luka yang sempurna engkau ciptakan, aku bisa
merasakanya. Ini luka, terlalu sempurna.
Ini rapuh, terlalu indah untuk kau bagi untukku. Bawalah
pulang lagi.
"Aku
tidak bisa, Fathan. Sudah ada Rega, ia menungguku." Ucapmu sendu.
"Soal
umur ku? Tolong lah, Sinar. Aku sungguh
mencintaimu" Pintaku penuh harap.
"Buang
jauh-jauh rasa cintamu!" Tukasmu
tegas. Aku terdiam.
"Baiklah” Akhirnya aku menyerah sepenuhnya, dengan beban
luka yang kau beri, kupanggul hingga saat ini.
"Kau
akan temukan yang lebih baik, Fathan" Lanjutmu dengan setetes air mata yang jatuh diatas lesung manismu.
"Di
kehidupan selanjutnya, ya. Aku akan
bersamamu. Kau harus tahu itu” Namun kau menggelengkan kepalamu, tidak setuju dengan kata-kata ku barusan.
"Seandainya kita dipertemukan dikehidupan
selanjutnya, Rega akan selalu ada. Dan
aku akan tetap ada disisinya, bukan
denganmu." Ucapmu.
Saat itu, rasanya ingin sekali aku berlari. Meninggalkan
dirimu di danau itu sendirian. Namun, tenaga lemah bersama seiring rapuhnya
jiwa malah membuatku terjatuh tersungkur. Kau tak bergeming, terdiam. Menungguku sampai tak bernafas, mungkin. Kau membuat ku sekarat ditanganmu.
Sementara aku sudah berada di ranjang tidurku
yang nyaman. Kau, orang tua ku, adik-adiku, berdiri disamping ranjangku. Kalian
menangis seolah aku sudah tiada. Dan orang-orang berseragam itu, sibuk dengan
selang yang tertancap pada tubuhku. Ada yang terus mendeteksi monitor bergambar
diagram statistik tersebut.
Hingga mataku
tak sanggup lagi terbuka, aku lelah, aku ingin istirahat. Maaf aku tidur lebih
dahulu
Sementara aku sudah
berada di ranjang tidurku yang nyaman. Kau, orang tua ku, adik-adiku, berdiri
disamping ranjangku. Kalian menangis seolah aku sudah tiada. Dan orang-orang
berseragam itu, sibuk dengan selang yang tertancap pada tubuhku. Ada yang terus
mendeteksi monitor bergambar diagram statistik tersebut.
Hingga mataku
tak sanggup lagi terbuka, aku lelah, aku ingin istirahat. Maaf aku tidur lebih
dahulu selanjutnya aku tertidur dengan lelapnya.
"He's
gone"
"He's
gone"
"Fathan's gone"
Aku terbangun, saat ini posisiku tepat bersanding disebelah
Sinar. Namun Sinar terus memeluk seseorang sambil menangis. begitupun semuanya.
Apakah Rega meninggal? Yes! Batinku bergembira.
Lalu tiba-tiba ada seseorang yang menyerobot masuk ruangan. Seorang lelaki dewasa yang mengenakan baju
wisudanya, seorang mahasiswa sukses. Ia
menatap raga yang terbujur kaku di
depanya, air matanya terus mengalir. Aku
masih belum bisa melihat siapa pemuda itu dan siapa yang terbujur kaku.
Hingga saat pemuda tersebut memeluk raga yang terbujur kaku didepanya.
"Fathan... Fathan jangan tinggalin kakak
Fathan." Aku terjatuh, pemuda itu. Kakaku, Rega. Raga yang terbaring itu, aku. Aku mati, aku
tiada. Aku berteriak sekencang-kencangnya. Namun raunganku tak dapat terdengar
oleh siapa-siapa.
"Kak
Rega! Rega!" Pekiku sambil coba
menyentuhnya. Namun nihil.
40 Hari..
Tepat hari ini, hari ke 40.
Kau masih seperti 40
hari yang lalu. Berdiri menunggu senja di tepi danau. Meski terkadang hujan
jatuh merintik. Kau akan tetap berdiri disana. Hingga seseorang itu datang
menjemputmu. Mendekapmu dari belakang, dan mencium keningmu. Masih kuingat 40 hari yang lalu, saat kau
memeluku untuk pertama dan terakhir kalinya. Aku bahagia.
Masih tentang luka yang kau gores sempurna,
kau harus tau luka itu sudah mengering sebagian. Rapuh sudah kurengkuh, aku
akan menemukan yang lebih baik dari pada Sinar, akan lebih bersinar indah di
kehidupan selanjutnya seperti yang kau katakan.
Dan disini, kau akan tetap bahagia tanpa
seorang aku yang biasanya tak berhenti berharap. Rasanya ingin sekali lagi aku
berhambur dalam pelukanmu. Sekedar kenangan yang dapat kuingat bahwa aku pernah
memeluk Sinar jingga.
Ini adalah hari terakhirku, selanjutnya aku akan benar-benar berada di dimensi lain.
Mungkin bunga yang tersemai di rumah baruku belum begitu layu, aku tahu karna
kau pun menaburkanya. Kau membuatnya terlihat indah, aku bahagia harus kembali,
Sinar.
Hiduplah, cintaku yang harus terpisah. Sinar
akan selalu bersama Raga yang ada di dalam diri Rega, kakak ku.
Hidupmu, hidupku..
Sungguh
mati aku tidakbisa meninggalakn dia,
Walaupun
kau dekap aku..
Ampun aku bila kini yang terkuak hanya perih,yang mungkin menghampiri..
hidupmu hidupku..


Komentar
Posting Komentar