Akhir cerita single sukses as Jones
'Saat
ku tenggelam dalam sendu, dan waktu enggan untuk berlalu. Ku berjanji tuk
menutup pintu hatiku, dan tak untuk siapapun itu.'
Jones. Jomblo Ngenes. Kurang lebih sudah sejak
lima tahun lalu saat pertama dan terakhir seorang single sukses bernama MinHo
menjalin hubungan taken dengan seorang wanita. MinHo seorang lelaki muda yang
saat ini berprofesi menjadi seorang jurnalis, banyak digandrungi banyak wanita,
punya banyak fans disebabkan oleh rupanya yang tampan, apalagi ia mapan.
Namun MinHo, benar-benar mati rasa.
Berkali-kali usaha yang dilakukan oleh rekan-rekanya untuk membuatnya menjalani
hubungan dengan seseorang, namun selalu gagal. Hingga MinHo diberi predikat
Jones, ia tak bergeming. "Jones itu nama yang berkualitas. Tidak ada
defenisi khusus untuku." Ucapnya bijak. Sayang sekali bila pria yang
mendekati kata sempurna seperti MinHo harus single seumur hidup. Pasti banyak
wanita yang menjerit minta dipinang.
Pasalnya lima tahun lalu, saat umur
MinHo genap 16 tahun. Saat ia sedang merayakan annive 1st hubunganya bersama
sang kekasihnya dulu, bertepatan juga dengan hari lahirnya. Perasaan bahagia
dua kali lipat untuk MinHo. Sore itu
MinHo berniat untuk memberi kado hari jadinya kepada sang kekasih.
Langkah-langkah si tampan selalu menjadi sorot abg remaja SMA kala itu. MinHo,
dengan gagahnya menggenggam sekotak kado dengan setangkai mawar merah manis.
Senyumnya terus merekah menghiasi rupa tampanya.
Hingga saat ia sampai pada sebuah altar rumah.
Mawar dan kadonya terjatuh, matanya terbelalak, mulutnya ternganga, tak percaya.
Kekasihnya saat ini sedang bermesraan dengan laki-laki lain.
MinHo
mengahampiri keduanya dengan emosi, "Zubaedah!! Lo gue End!" Pekiknya
jantan. "Mas boy, eke sakit hati!" Lanjut MinHo sambil berlari
flamboyan, bayangkan saja telenovela.
"Taken
yah?" Ucap MinHo serius. "Ah, aku masih menikmati masa-masa single
ku." Lanjutnya. MinHo selalu seperti itu, begitulah caranya dalam
mengelak.
***
"Hallo iya, ini MinHo iya,
Jurnalis iya, laki-laki bisa jadi iya" MinHo sedang berbincang dengan
klienya. Sebuah redaksi memerlukan jasa menulisnya. "Halo ya mas MinHo.
Kami mau pakai jasa anda, bisakan menulis sebuah artikel bertema 'Kenapa masih
Single' ?" Tanya suara seorang wanita dari seberang sana.
MinHo
terdiam, berfikir sejenak. Huahah, nyindir gue rupanya. Batinya sinis.
"Eum, oke dek. Bisa ketemu sama saya kapan?"
"Lusa deh mas."
Dan
pembicaraan pun selesai. Lusa itu pun datang..
MinHo terduduk disudut
kafe dengan tenangnya. Menatap kearah luar. Hujan deras, angin menyemilir
menggilir kulit, sendu. Terlihat sepasang remaja SMA sedang melakukan adegan
sinetron. Si perempuan kehujanan, lalu si lelaki dengan modusnya meminjamkan
jaketnya. MinHo tersenyum disatu sisi bibirnya.
Ah, inget waktu modusin Zubaedah dulu deh.
Batinya. Tiba-tiba suara seorang wanita membuyarkan lamunanya, "Mas
MinHo?" Tanyanya. MinHo menggangguk, sebenarnya ia tertegun melihat sosok
wanita ini sekarang. MinHo terdiam untuk beberapa saat.
"Mas,
saya pegel" Lanjut wanita tadi. "E..eh iya maap baedah, eh..
Maksudnya dek. Duduk silahkan" MinHo tergagap. Situasi ini persis saat
MinHo pertamakali jatuh cinta pada Zubaedah, saat keduanya dipertemukan dalam
tugas kelompok.
"Qori" Ucap si wanita sambil
tersenyum seraya mengulurkan tanganya. MinHo menyambut uluranya.
"MinHo" dan untuk beberapa detik, keduanya saling bertatapan. MinHo
tertegun
dengan senyum manis yang Qori persembahkan ditengah
dera hujan. Manis sekali
'Semakin kulihat masa lalu, semakin hatiku tak
menentu. Tetapi satu sinar terangi jiwaku, saat ku melihat senyum mu'
***
MinHo masih berkutat di depan monitor
comput guna
menulis artikelnya dengan tema 'Mengapa masih single?' . Menurut artikel yang
MinHo tulis, single bukanlah hal yang buruk. Single adalah sebuah pilihan
hidup, single itu pria atau wanita mapan, yang sedang lebih memapankan hidupnya
untuk kehidupan yang lebih lebih dan lebih baik!
Alah, sekali jones mah jones aja kali. Kali
ini batin MinHo mencercanya. Tiba-tiba sekelebat senyuman muncul dalam imaji
MinHo, Qori. Ah, sudah seminggu ini aku tidak mengontaknya, bagaimana kalau aku
sms dia, basa-basi kalau aku lupa alamat email redaksi. pikir MinHo.
Tanpa b-a-b,
MinHo segera mengirimkan pesannya. "Ass. Eum, Qori maap nih. Aku lupa
emailnya"
1 menit..
2 jam..
"Qor, emang kamu sibuk beud ya?"
10 detik..
15 menit..
MinHo kesal karna Qori tak kunjung membalas
pesanya. "Tuhkan, saat gue udah mulai fallin love lagi. Dia gak peka,
padahal kerjanya diredaksi KaMuPeKa" Dengus MinHo kesal.
Tiba-tiba
nada pesan posnelnya berdering, MinHo sumringah. Pasti Qori, pasti Qori! pikirnya.
1 menit.. senyum-senyum sendiri melihat simbol pesan
masuk.
10 menit.. Bissmillah tujuh kali untuk siap membaca
pesan.
And now..
"Pelanggang Yth. Saat ini pulsa anda dlm masa tenggang. Isi lagi cepet!
Jones sih~" Pesan masuk tadi ternyata berasal dari operator. MinHo makin
jengkel, dan kemudia ia menonaktifkan ponselnya yang terbilang cukup canggih.
Tapi apalah artinya canggih bila tanpa pulsa? Duh.. Jones~
***
Di suatu senja yang jingga, MinHo
terduduk di depan teras rumahnya sembari menikmati secangkir kopi hitam dengan
asap yang masih mengepul. Sembari menikmati guratan senja yang indah. Dihati
dan pikiranya hanya ada satu nama yaitu, Qori. Entah mengapa, semenjak senyum
itu terlukis, MinHo bisa merasakn kembali rasanya jatuh cinta setelah kurang
lebih selama lima tahun ia mati rasa.
Rindingdong.. Tiba-tiba ponselnya berdering,
tanda ada panggilan masuk. MinHo segera menggapainya. Betapa sumringahnya ia
ketika yang dilayar poselnya ia mendapati nama 'Qori' maka segera ia
mengangkatnya.
"Ya
Hallo Qor?"
"Mas,
artikelmu terbit."
"Alhamdulilah"
"Mas,
gak mau nraktir aku nih?" Kali ini perkataan Qori membuat MinHo terdiam,
sembari menelan air liurnya.
"Eum..
Bboleh kok Qor. Eum.. Kamu mau kemana?" Tanya MinHo gugup.
"Kafe
yang biasa aja mas? Besok sore ya mas?"
"Oh
oke" Tutup MinHo. Kini ingin rasanya MinHo loncat-loncatan. Perasaanya
senang bukan main. Sepertinya redikat Jones akan segera berakhir esok hari.
Keesokan harinya..
MinHo terus menilik ke arah arlojinya, Qori
sudah terlambat 25 menit dari janjinya. MinHo menunggunya dengan gelisah. Mawar
merah, dan sebuah kado manis untuk Qori sudah siap sebagai pembukanya.
Rencananya, hari ini MinHo akan benar-benar berstatus taken lagi. Kalau
diterima.
10 menit kemudian..
MinHo menemukan sosok
yang ia tunggu sejak dua jam yang lalu. Namun, Qori berjalan dengan tubuh yang
lemas.
"Are you fine girl?" Tanya MinHo. Seketika
Qori langsung menghambur kedalam pelukan MinHo sambil menangis tersedu.
"What
happen Qori?" Tanya MinHo sekali lagi, namun Qori tetap terus menangis.
Sampai akhirnya ia terdiam, masih dalam pelukan MinHo.
MinHo
terdiam, ia merasa tak asing dengan pelukan Qori. Aroma ini seperti ia pernah
rasakan, rasa jatuh cintanya jua, begitupun cerahnya hari saat ia merasa jatuh
cinta. Rasanya sama, persis dengan lima tahun lalu.
"Mas, aku tadi kecopetan dan uang honorer
punya ma MinHo hilang. Aku gak tau mau ganti pake apa? Aku benar-benar sedang
kiris mas" Jelas Qori, MinHo tersentuh. Dengan hati malaikatnya yang
muncul tiba-tiba, MinHo merelakan uang itu pergi. "Qori, semua harta
itukan titipan." Jelas MinHo sambil tersenyum. Walaupun begitu, Qori masih
tetap merasa bersalah. Lalu, keduanya terdiam untuk beberapa saat sampai
saatnya MinHo teringat dengan tujuanya, menyatakan cinta.
"Qori..
Eum, mas boleh tanya?" Ucap MinHo memecah keheningan. Qori hanya
menggaguk. "Eum.. Nama asli kamu siapa?" Tanya MinHo sambil tertunduk
dengan setangkai mawar ditanganya.
Dengan lesu
Qori menjawab, "Siti Qoriah Zubaedah, mas?" Jawab Qori sambil
bertanya balik. MinHo terkejut? Masih tak percaya dengan kata-kata Qori
barusan. Lama MinHo terdiam.
"Mas, mas nama aslinya siapa?" Tanya
Qori penuh rasa penasaran. "Ahh... Ahmad Saiful MinHo" Jawab MinHo
yang tak kalah membuat Qori tertegun seketika. Kini keduanya saling
berpandangan. Masih sangat lekat di memori MinHo saat Zubaedah as Qori
selingkuh didepan matanya sendiri, lalu kini ia lagi yang membuatnya kembali
merasakan jatuh cinta. Dunia serasa sempit sekali.
"Bang Ipul...." Lirih Qori as Zubaedah
sambil tetap menatap MinHo.
"Zubaedah..." Jawab MinHo tak kalah
dramatis.
***
"Bang, kenapa kita
dipertemukan lagi? Sebenernya kejadian lima tahun lalu itu, waktu abang ngeliat
Baedah berduaan sama laki-laki. Itu sebenernya sepupu Baedah bang. Tapi abang
malah salah paham gitu" Jelas Qori as Zubaedah. MinHo terkaget,
"Bener lo dah?" Tanya nya masih tak percaya. "Berani samber
geledek deh. Lagian abang maen kabur aja sih!" Kali ini Qori as Zubaedah
mendengus kesal.
Tinggalah MinHo yang cengengesan dengan
watadosnya. MinHo as Ipul, yang trauma akan kesalapahaman cinta sehingga ia
menutup hatinya untuk jangka waktu yang lama. Banyak pilihan yang mengejarnya,
namun takdir indah Tuhan mempertemukan ia dengan cinta lamanya. Kini mana
mungkin bisa menolak? Ketika kenyataan yang dihadapinya adalah, wanita yang
mampu membuatnya merasakan cinta kembali adalah seorang yang hadir dari masa lalunya.
Senja itu juga, keduanya resmi menjalin tali
kasih kembali lagi. Memulai semuanya dari awal, menjalani hadiah Tuhan. Semua
indah pada waktunya.
Kesimpulan: Benar kata MinHo. Jones itu nama yang
bagus, tidak ada defenisi 'Jomblo Ngenes' saat diri kita yakin bahwa kita adalh
single sukses! Johan? Jodoh ditangan Tuhan.


Komentar
Posting Komentar