Aib dan Nasib; Fragmen Kehidupan dalam Semrawut Hidup Warga Desa Tegalurung
Sepanjang 2021 yang baru setengah jalan, saya belum juga mampu merampungkan currently read saya, 1Q84 karya Haruki Murakami. Alih-alih menyelesaikan, sebuah buku pinjaman partner saya justru mendistraksi hampir satu hari penuh, dan buku itu adalah Aib dan Nasib karya Minanto. Novel yang menjadi pemenang Sayembara Novel Dewan Kesenian Jakarta tahun 2019. Mungkin sebagian orang akan kaget ketika mata mereka membaca tepat baris-baris cerita di paragraf pertama, dan saya mulai berpikir, “apa tidak terlalu senonoh kata-kata dan adegan sambutan di bab pertama ini?”, karena selain pemilihan kata yang lumayan berani, ini pengalaman pertama saya membaca sebuah buku dengan bahasa yang begitu gamblang dan jujur (meskipun sesekali harus mengernyitkan dahi sedikit).
Aib dan Nasib karya Minanto terbit pada Juli 2020, cetakan pertama, diterbitkan oleh penerbit Marjin Kiri dengan total 263 halaman. Mungkin sepanjang tahun ini ketika saya sendiri memiliki list buku untuk dibaca, Aib dan Nasib menduduki peringkat pertama buku yang berhasil saya selesaikan hampir seharian penuh, saya hanya menyisakan beberapa halaman untuk dibaca besok pagi dan dengan sengaja membiarkan rasa penasaran mengambang di atas kepala kendati masih merasa aneh dengan kecepatan membaca saya hari itu.
Membaca Aib dan Nasib membawa setengah dari diri saya plesiran ke pesisir Pantura, dengan suasana pedesaan yang kalau boleh saya bayangkan berdasarkan narasi panjang ini, berwarna ungu kelam--kadang-kadang terang meski sedikit. Kehidupan pedesaan yang dikemas dalam Aib dan Nasib barangkali akan membuat pandangan kita berubah, maka saya katakan bahwa warnanya adalah ungu kelam, atau kadang-kadang cerah meskipun sedikit, adalah karena kehidupan yang disajikan dalam ceritanya jauh dari bayangan desa yang ada di benak kita ketika mengenang desa dengan keindahan terstruktur di kepala siapapun itu.
Lewat tokoh-tokoh yang menjadi pemeran dalam ceritanya, novel ini dikemas dengan alur maju-mundur yang terbagi menjadi bagian-bagian tersendiri untuk masing-masing tokohnya. Fragmen demi fragmen kehidupan yang mengemas kemiskinan struktural hampir untuk semua tokoh, kehidupan sosial beserta tuntutan tidak kasat dalam bermasyarakat, kehidupan yang tidak adil untuk sebagian besar perempuan karena harus mengenyam budaya patriarki, para lelaki yang dilukiskan dengan malang, pasrah, lagi kasar sampai polemik politik recehan yang digeluti oleh orang-orang desa adalah apa-apa yang akan kita temui dalam narasi Aib dan Nasib.
Tidak ada satu dua kalimat yang bisa saya bawa sebagai kutipan indah dari Aib dan Nasib, karena membacanya berarti hidup diantara warga desa Tegalurung yang saling bergantian peran untuk menjemput nasib mereka masing-masing. Seperti bagaimana Minanto membawa pembacanya untuk mengikuti alur yang ia ciptakan, dengan timeline waktu yang bias, pembaca diajak untuk menebak timeline waktu milik siapa yang sampai lebih dulu pada penghujung nasib yang saling berkelindan, (ini mengingatkan saya juga pada alur dalam novel saku berjudul pop5icle karya Rizki Agung yang pernah saya baca sekali duduk di perpustakaan umum tahun 2010 lalu).
Dalam bentuk kehidupan sederhana yang cukup pelik dari masing-masing rumah, Aib dan Nasib menjadi versi tidak-semenyenangkan-itu-kehidupan-di-desa yang mungkin akan memberikan para pembaca pandangan dan perasaan baru tentang desa dan kepadatan budaya yang dibawanya, sambil mungkin sesekali membayangkan bagaimana bentuk nasi lengko yang acapkali disantap setiap pagi.

Komentar
Posting Komentar