#ReviewNovel: Nidah Kirani Sebagai Wadah Kemarahan dalam Tuhan, Izinkan Aku Menjadi Pelacur!
Saya memberanikan membaca buku ini, meskipun sebenarnya tidak takut juga, tapi penulisnya sendiri yang bilang bagaimana buku ini menjadi kontroversi karena latar belakang kehidupan yang diangkat bersama segala hal yang mungkin rasanya akan menimbulkan tanya, “masa, sih?” pada narasi-narasi dalam novel ini.
“Tuhan, Izinkan Aku Menjadi Pelacur!” adalah novel karya Muhidin M. Dahlan yang mengklaim dirinya terinspirasi dari karya yang ditulis oleh Nawal El Saadawi yang berjudul “A Woman at Point Zero”—meskipun secara isi saya tidak yakin kalau isu yang diangkat benar-benar serupa—tetapi dua karya ini memang sama-sama berangkat lewat kekuatan karakter perempuan yang dominan.
Adalah Nidah Kirani, seorang aktivis dakwah yang merasa dirinya dikecewakan oleh konflik yang absurd sehingga ia memutuskan untuk memusuhi Tuhan sebab kekecewaan yang ia tanggung atas ekspetasi tinggi dirinya sendiri. Kerap dijejali dengan dialog-dialog bermajas berat yang agak canggung, novel ini kadang terasa berisi manisfestasi kemarahan entah siapa dan tokoh Nidah Kirani adalah wadah yang tumpah dengan semrawut.
Novel “Tuhan, Izinkan Aku Menjadi Pelacur!” menurut saya adalah narasi yang kuat sekaligus rumpang di beberapa tempat, seperti kekuatan diksi yang agak setengah-setengah dimana begitu terasa kelinglungan dari sudut pandang pertama soal apakah ia ingin menjadi serupa Khalil Gibran atau orang biasa ketika bertutur, juga konflik Nidah Kirani yang terasa absurd sebab rincian kekecewaannya atas Tuhan terasa begitu rapuh untuk disebut sebagai sebuah konflik yang akhirnya menghantarkan ia kepada dunia pelacuran yang melulu melemahkan karakter lelaki sehingga keperempuanan Nidah Kirani menjadi sesuatu yang semakin halaman semakin tidak terbantahkan. Dalam hal ini, tidak aneh jika anggapan penulis lelaki yang mendeskripsikan perempuan sebagai pokok dalam karyanya adalah hal-hal yang janggal yang bahkan terasa asing ketika dibaca oleh perempuan itu sendiri.
Meskipun novel ini dibebani stigma sesat yang cukup marak, tanpa melibatkan emosi, ia masih layak dibaca sebagai sudut pandang lain dari dunia yang melulu kita anggap putih dan bersih.

Keren resensinya
BalasHapusThank you kak Jo!
Hapus