Sebuah Keluhan; Ku Keluhkan
Semalam hari Kamis, 13
September 2019.
Seperti kebanyakan
malam di pertengahan 2019, saya tidak buru-buru pulang ke rumah. Lebih tepatnya
memang sengaja berlama-lama di kantor. Saya jadi terbiasa pulang malam, bukan
hanya untuk lembur, tapi untuk mengerjakan banyak hal di luar pekerjaan.
Tugas akhir itu sudah
di depan mata, kali ini saya benar-benar kewalahan bukan main. Saya tidak tahu
kadang ke mana diri saya di masa semester satu, perempuan yang semangat dan
detail dalam mengerjakan apapun, sekarang lebih perasa dan mulai banyak
menunda. Tapi hari-hari lalu sambil mandi dan bercermin saya sudah janji kok
sama diri saya sendiri, saya tidak akan malas-malasan lagi, nilai saya kemarin
sudah cosplay jadi atlit terjun payung, semester ini tidak boleh lagi.
Saya beberapa kali
bertemu dengan beberapa teman lama di hari libur, kami berenang, atau sekedar
temu kangen sambil makan pisang panggang dan ngopi. Di sela-sela perjalanan
kami selalu ada obrolan tentang bagaimana menjalani tuntutan untuk belajar
sekaligus membanting tulang. Saya cerita ke teman saya, kadang-kadang kalau
sedang payah betul, saya mandi sambil sedikit-sedikit nangis, kemudian cuci
muka banyak-banyak agar tidak kentara dan buru-buru tidur. Teman saya tertawa
dan mengiyakan, hal yang sama, ia lebih kehilangan hari minggunya, minggu
adalah hari mati sementara; tidur yang lama.
Saya merasakan satu
yang tidak mengenakkan, hal-hal yang baru saya pahami di 21 tahun hidup sebagai
manusia. Semakin bertambah usia, semakin banyak yang hal dijalani, semakin
sedikit ruang untuk saya berbagi. Saya mungkin bisa berbagi dengan siapapun,
tetapi tidak semua bisa mengerti. Semisal saya cerita tentang saya lelah karena
sudah sejauh ini saya masih harus menghadapi artikel-artikel copy paste dari
yang katanya mahasiswa, tapi lawan bicara saya hanya bilang, “Oh, maklumi aja
lah, namanya juga bla bla bla...”
Kadang juga, saya pikir
saya pengin sekali kolokan untuk waktu yang tidak lama, saya mau mengeluh hari
itu saja sambil sesenggukan dan di dengarkan. Tapi, katanya saya cengeng. Katanya,
saya manja. Katanya, saya pengeluh. Padahal saya cuma butuh tidak lebih dari 30
menit untuk jadi anak kecil sebentar saja sambil dipeluk, minimal saya tidak
merasa sendiri.
Hal-hal itu membuat
saya berpikir berkali-kali kalau ingin berbagi kisah yang warnanya biru. Saya
pikir, rasanya mungkin saya simpan sendiri saja. Kita juga jadi semakin paham
kalau tidak semua hal bisa kita gantung di lengan orang lain, kita harus punya
bahu dan tangan yang kuat untuk diri sendiri.
Dan semalam, ketika saya telah selesai sholat isya dan menyelesaikan sedikit lagi tugas-tugas, rekan saya Ipey mengajak nasi timbel di bawah, sekalian pulang aja, katanya. Kebetulan babeh traktir, di jam sembilan malam dan bahkan kami masih sempat sekali dua kali membahas pekerjaan. Di jalan pulang menuju stasiun tiba-tiba Ipey nyeletuk, “Mbak, lu pernah denger kan kalau dunia ini tuh nggak sampe 1500 tahun?”
“Iya, kenapa emang Pey?”
Dia diam sebentar, “ya
kepikiran aja gitu mbak, gua belum nikah, ini aja udah tahun berapa? Kalau nyisa
60 tahunan lagi aja, gimana ya, kepikiran gua”
Karena dia bilang
begitu, saya juga ikut kepikiran. “Iya, Pey. Sama. Gue juga mau nikah, tapi kan
umur gua baru 21, masih kuliah juga, masih belum terlalu tau”
“Ya mbak elu mah masih
muda banget, masih tolerir. Ini gua tahun depan aja udah 26, nggak berasa gua
kerja-kerja-kerja, udah umur segini” keluhnya.
“Bukannya lu sering cerita kalau pacar lu suka ngajakin nikah, ya? Kenapa nggak lu gas aja?”
Pembicaraan itu ngalor
ngidul, terbentur iyasih-iyasih dan keresahan masing-masing. Ipey bilang dan
pesan kepada saya, “Nanti mbak, kalo bisa cari yang bisa ngemong, ngerti elu, sayang
elu, dan paling penting nggak main tangan. Jangan terlalu percaya sama bujuk
rayu mbak, yang biasa-biasa aja yang penting dia jaga”
“Iya pey, Aamiin.”
Saya turun di Stasiun
Tebet dan Ipey lanjut pulang ke kosannya. Tadi selagi Ipey berpesan, saya
diam-diam menambahkan doa di dalam hati, “semoga nanti Allah pertemukan saya
dengan ia yang mau dan nggak marah kalau tiba-tiba saya nangis, semoga ia
adalah yang mau dengarkan saya dengan tulus dan tanpa interupsi”
Iya. Saya rasa, mungkin
saya memasuki masa-masa seperti, “Ya Allah, ini nikah enak kali yak”
Halah, alibi kamu, Ta.

Komentar
Posting Komentar