Laki-laki yang Tak Berhenti Menangis; Sebuah Kisah Sederhana yang Harus Dinikmati Lama-lama
Laki-laki yang Tak
Berhenti Menangis awalnya dengan pongah saya tetapkan akan habis dalam satu
gelas es kopi, tetapi ketika mulai membacanya, saya mundur sejauh 3-7 hari
untuk menyelesaikan buku tipis ini. Buku tipis yang tidak bisa dinikmati dengan
buru-buru. Buku tipis yang mau saya bawa setiap intinya di dalam kepala saya.
Alm. Rusdi Mathari tidak hanya menuliskan kisah, ia juga
memaparkan refleksi, sejarah, bahkan ringkasan kutbah Jumat dengan tutur
tulisnya yang ringan dan ramah. Lewat penanya ia ingin menyampaikan banyak hal
tentang indahnya Islam, bagaimana santun bersikap menjadi seorang muslim, dan nilai-nilai
sosial dari kehidupan sehari-hari.
Sebelum membaca ini, saya sudah lebih dulu membaca karya
beliau yang belum sempat rampung yang juga ditulis oleh Almarhum pada masa
sakitnya, ia menulis dengan hanya sebuah telepon genggam sambil terbaring di
rumah sakit. Di hampir penghujung hidupnya yang lemah, penanya tidak pernah
mati bahkan hingga saat ini.
Pada salah satu ceritanya yang berjudul ‘Perayaan’ yang
disebut-sebut sebagai firasat dari dirinya sendiri, ia menulis begini;
“Tidakkah selain kelahiran, salah satu perayaan terbesar
umat manusia adalah kematian?”
Potongan kalimat itu membuat saya diam sejenak. Meriah di
kepala saya sekarang punya lebih dari satu warna.

Komentar
Posting Komentar