Dua Orang Asing Saling Menemukan


Dua orang asing saling menemukan, bertanya tentang dua atau beberapa hal yang mereka ketahui. Mereka adalah dua orang, dua orang yang bertolak belakang sama sekali dengan beberapa kesamaan yang justru membuat mereka seperti dua arah kutub magnet yang saling melemparkan satu sama lain. Di mata lelaki itu, orang asing yang ia temui tidak lebih dari seorang adik perempuan, ia sudah tujuh tahun lebih akurat untuk memahami banyak hal, orang asing yang ditemuinya tidak lebih dari remaja kemarin sore yang baru tahu banyak hal, dan sedikit norak. Sementara untuk perempuan itu, orang asing yang ia temui tidak pernah jauh berbeda dengan orang-orang baru yang ia temui, hanya saja seharusnya dengan umur yang hampir mendekati angka tigapuluh, seharusnya, lelaki itu sudah mempunyai teman hidup, atau satu anak berumur dua sampai tiga tahunan. Dia terlihat seperti om-om, kan?
Pertemuan tidak meminta kita untuk seharusnya menjadi bagaimana, dan jadi apa. Dua orang asing bersama dengan langkah yang kecil-kecil, menuju tujuan yang samar-samar, menuju perasaan yang ragu-ragu, menuju ketidakpastian yang pasti, membangun yakin yang berkali-kali runtuh, dan keduanya enggan meninggalkan satu sama lain. Dua orag asing membangun jembatan-jembatan dari rasa sakit dan pengulangan, meskipun sekiranya di antara keduanya tidak lagi ada kata kangen yang dulu marak, atau puisi yang dibacakan malam-malam, atau dongeng, atau hal-hal manis yang pernah saling ditanyakan yang hari ini hilang sama sekali, dua orang asing tetap menjadi diri mereka sediri yang bersama-sama membagi senyuman dan kadang saling melempar rasa sakit, ketidakpahaman, dan lainnya, dan lainnya. Dan jembatan-jembatan itu akhirnya bermuara kepada sebuah rumah yang mereka beri nama sebagai tujuan, atau mimpi. Apapun.
“Kenapa saya? Kenapa bukan si A yang lebih manis? Si B, yang jelas-jelas sepertinya dewasa dan memahamimu?”
“Ya karena memang tidak, karena perasaan yang dibangun bersamamu rasanya bukan seperti yang lain, yang demikian”
Salah satu orang asing mungkin pernah mengkhianati percakapan itu, menyakiti orang asing yang pernah ia genggam tangannya. Atau orang asing yang pernah digenggam tangannya juga pernah mengingkari itu, membiarkan masa lalu masuk ke dalam ruangnya.
Fondasi perjalanan itu dibuat dengan sederhana, diatas ego masing-masing, kadang-kadang tidak mudah untuk mengalah, untuk memahami, dan lagipula apa yang harus selalu wajib dipahami, bukankah perjalanan itu terdiri atas dua, bukan satu? Maka kesadaran-kesadaran itu membuat salah satu atau keduanya membuat langkah mundur pelan-pelan. Dimulai dari sikap yang kekanak-kanakan, sampai sebuah pernyataan jujur yang menyakitkan.
Matahari jatuh di bibir malam, kadang-kadang kita diam dan sibuk dengan pikiran kita sendiri. Kadang-kadang kita bercanda dan melupakan banyak hal yang tertinggal di belakang kita. Kau sedang memikirkan apa? Aku sedang memikirkan apa? Kita dua orang asing yang memutuskan untuk bersama, di bawah keyakinan atau kepastian-kepastian yang tidak pasti.
Kau bilang, “Semoga karena sebuah ucapan, tidak memudarkan sebuah tekad apalagi sampai berkarat”
Dan aku tidak lagi banyak berharap kecuali memang sesuatu yang telah Tuhan gariskan tentang bagaimana sebuah kebaikan bekerja. Untukmu, buatku, untuk saat-saat sepasang kaki yang masih beriringan, untuk rasa percaya di masing-masing hati, untuk kehidupan yang nanti akan disebut sebagai kita.

Komentar